
Kakakku seorang pembual. Dia sering sekali menceritakan hal-hal yang tidak masuk akal. Digigit biawak di belakang sekolah, menemukan terngkorak manusia setelah tanpa sengaja ia menginjaknya, memiliki teman yang ibunya penyihir, kucing siluman yang mengaum, sampai cerita bualan bertemu Michael Jackson. Dulu aku mempercayai setiap ceritanya. Bahkan sering kali mulutku terbuka menganga mendengar suara-suara ledakan atau gemeretak yang dia ucapkan ketika dia bercerita. Tapi kini aku tidak percaya lagi, aku sudah tahu kalau semua cerita itu bohong belaka.
Hingga suatu pagi saat sarapan dia menunjukkan sesuatu padaku.
“Ini batu bulan,” ujarnya. “Aku mengambilnya tadi malam waktu aku terbang dan mendarat di sana.” Aku melengos dan melanjutkan sarapan serealku.
“Nggak percaya?” ujarnya seraya mendekat, hingga wajah kami hanya berjarak kurang dari sekepalan tangan. Aku cuma angkat bahu.
“Lihat dulu donk, mana ada batu kayak gini di bumi,” dia menyorongkan sebuah kain hitam di tangannya. “Nih lihat!” ujarnya sembari membuka kain hitam itu. Sambil tetap menyuapkan sereal ke mulutku aku menatap batu itu.
Aku memang belum pernah melihat batu seperti itu sebelumnya. Warnanya putih, bentuknya oval dan sangat halus, seperti diamplas oleh seorang tukang batu yang sangat ahli. Tapi satu hal yang membuat sendok sereal berhenti di depan mulutku adalah batu itu tampak berkilau terbungkus kain hitam. Seperti sebuah telur yang menyala, tapi tidak seterang lampu. Sinarnya lembut seperti bulan purnama. Dan ada bercak-bercak kehitaman di beberapa bagiannya.
“Eits!” ujar kakakku sambil menarik batu di tangannya, ketika aku hendak menyentuhnya. “Dilarang pegang-pegang, nanti rusak.”
“Hhh,” aku melengos. Kalau sudah begitu berarti dia bohong lagi, seperti biasanya. Dan aku melanjutkan sarapanku tanpa ingin diganggu. Tapi dia tidak beranjak, justru dia menggeser kursinya semakin dekat.
“Tadi malam aku naik gelembung ke bulan.”
“Oke, hebat,” ujarku sekenanya.
“Aku nggak bohong!” jawab kakakku.
“Ya, percaya. Salam buat Michael Jackson ya,” jawabku. Aku memang masih kesal dengan kejadian itu. Ketika dia bilang Michael Jackson datang ke Indonesia dan mengunjungi kota kami. Dia bilang dia sudah bertemu Michael Jackson di toko batik.
“Michael mau beli kain batik,” ujarnya waktu itu, dan aku percaya. Aku sangat bersemangat untuk melihatnya juga. Aku memang penggemar berat Michael Jackson. Aku suka sekali melihat dan mendengarkan koleksi album Michael Jackson milik ibuku. Dan aku sangat bersemangat untuk bisa bertemu dengannya. Maka aku mengunjungi hotel yang, kata kakakku, tempat Michael Jackson menginap. Bukannya bertemu Michael Jackson, yang ada malah aku ditertawakan semua satpam penjaga hotel itu.
“Kita bisa bikin gelembung yang besar... banget,” lanjut kakakku sambil menggerakkan tangannya membentuk lingkaran besar. “Kita masuk ke gelembung itu. Dan terbang ke bulan.”
“Gitu ya,” jawabku sekenanya sambil angguk-angguk kepala. Lalu segera beranjak setelah sarapanku habis. Kakakku mendengus berat,
“Ya sudah kalau gak percaya. Tapi kalau kamu mau aku bisa ajak kamu nanti malam, kita ke bulan.” Tapi aku tidak mendengarkan. Aku segera mengambil tasku dan menunggu Ayah di teras.
Tapi aku perhatikan ada yang aneh pada sikap kakakku hari itu. Dia kelihatan gelisah sekali. Biasanya pada jam istirahat dia bermain dengan teman-temannya atau jajan ke kantin. Tapi kulihat dia cuma duduk di kelasnya, yang berseberangan dengan kelasku, selama istirahat. Sambil menggenggam kain hitam berisi batu erat di tangannya dia tampak memperhatikan jam berulang kali.
Ketika bel pulang berbunyi dia segera berlari dan naik angkutan pertama yang lewat, meski pun harus berdesakan dengan banyak anak lain. Padahal biasanya dia paling tidak suka berdesakan di angkutan. Kakakku lebih suka bermain dengan teman-temannya sambil menunggu sampai angkutan tidak terlalu penuh. Walhasil aku juga ikut terlambat pulang ke rumah setiap hari. Tapi kali ini dia bahkan tidak menungguku dan tidak mendengar panggilanku.
Sesampainya di rumah keanehan sikap kakakku tidak berhenti. Dia sudah berada di halaman belakang dan membuat gelembung sabun. Dia terlihat sangat serius dan berusaha keras untuk membuat gelembung besar. Diayunkan kawat pembuat gelembung mengelilingi badannya, tapi selalu gagal. Gelembung itu meletus sebelum lingkaran terbentuk. Ibu merasa sangat heran, karena tidak seperti biasanya kakak harus dipanggil berulang kali untuk makan siang. Dan dia tetap menolak. Bukan, bukan menolak. Tapi seperti tidak mendengar suara apa pun! Dia seperti berada di dunia asing yang hanya dia sendiri yang tahu. Dia sibuk sekali dengan kawat pembuat gelembung yang paling besar, hampir sebesar ukuran badanku saat berlutut. Dengan baskom paling lebar yang ibu miliki kakakku membuat air sabun kental yang dicampur remasan daun kembang sepatu.
Aku terkesima melihatnya. Dia terlihat sangat berambisi membuat gelembung paling besar. Tapi bukan hanya itu saja yang membuatku terheran-heran. Betapa dia terlihat sangat khusyuk dan serius dengan kawat gelembung dan busa sabunnya. Ia menarik kawat ke sekeliling badannya, hingga terbentuk gelembung besar lonjong yang bergemeletar seperti kepompong raksasa dalam film alien. Tapi lagi-lagi pecah dan pecah. Tidak pernah berhasil.
Sampai sore kakakku baru berhenti mencoba membuat gelembung. Itu pun ia lakukan karena Ayah sudah menjewer kuping kanannya, dan kakakku terpaksa mengikuti Ayah masuk rumah kalau dia tidak ingin kupingnya putus dan tertinggal di tangan Ayah. Tapi dia masih juga terlihat begitu misterius. Dia makan nasinya cepat-cepat, ambil air wudhu cepat-cepat, sholat cepat-cepat (kalau yang ini aku tidak terlalu heran, karena sholat kakakku memang kilat secepat kereta ekspres).
Dia sempat berhenti menyuapkan makan malamnya, lalu memandangku.
“Aku mau mencoba ke sana lagi malam ini,” ujarnya sambil mengendikkan dagunya ke atas, dan matanya melirik sedetik ke plafon rumah. Aku mengangkat alisku.
“Bulan!” ujarnya sambil berbisik tapi tetap terdengar sewot. “Kalau kamu mau ikut kamu bantu aku. Kayaknya dengan usaha 2 orang,” sejenak kakak melirik ke Ibu yang sedang mencuci panci. “Bikin gelembungnya lebih mudah. Soalnya kita harus bikin gelembung sebesar badan kita, jadi kita bisa masuk ke dalamnya dan terbang ke sana. Gimana?” ujarnya masih berbisik. Aku mencibir. Kali ini aku tidak bisa ditipu, ujarku dalam hati. Kakak Cuma mengendikkan bahunya sesaat lalu melanjutkan makan. Aku kagum dengan kemampuan perutnya menampung makanan sebanyak itu hanya dalam selisih waktu 2 jam dari makan siangnya yang kesorean.
Kemudian dia kembali sibuk dengan obsesi gelembung raksasanya. Mau tak mau aku penasaran juga dengan usahanya yang tidak seperti biasa itu. Aku memandanginya dari jendela ruang tengah. Aku ingin tahu apakah dia akan berhasil terbang ke bulan dengan gelembungnya. Ayah dan ibu sudah menyerah menyuruhnya melakukan hal lain. Dan ayah membiarkannya dengan alasan mungkin kakak sedang bereksperimen. Beberapa kali dia hampir berhasil, tapi ketika ia hendak memasukkan kakinya ke dalam gelembung itu, tentu saja, gelembung itu pecah dan menyemburkan air sabun ke sekeliling wajahnya.
Lama-lama aku bosan juga. Lalu kuputuskan untuk masuk kamar dan tidur. Tapi gara-gara seharian aku memperhatikan kakakku, sampai-sampai akhirnya terbawa mimpi. Aku seperti seumur hidup akan menyaksikan kakakku memegang kawat gelembung dan berputar-putar perlahan, berusaha membuat gelembung di sekeliling tubuhnya. Gelembung pecah, air sabun menyembur, lalu dia celupkan lagi kawatnya ke baskom, dan mulai menariknya lagi untuk menciptakan gelembung. Lagi, lagi, dan lagi. Adegan ini sungguh sangat menghantui tidurku. Tiba-tiba aku terbangun tepat ketika akhirnya kakakku berhasil membuat gelembung yang sangat besar.
“Wahyu, Wahyu!” suara kakakku memanggil. Aku mencarinya, dia tidak ada di ranjangnya di sebelahku.
“Wahyu!” suaranya kembali terdengar dari arah jendela. Spontan aku melompat dan membuka jendela. Dan aku melihatnya, kakakku, dia melayang terbang. Dia berlutut di dalam gelembung raksasa dan mengambang semakin tinggi. Dia tersenyum lebar seraya melambai padaku. Terbata-bata aku berusaha memanggilnya, tapi lidahku terasa kaku seperti stik es krim. Aku berlari ke ruang tengah dan membuka pintu menuju halaman. Kakakku sudah sangat tinggi, aku tidak mampu meraihnya meski pun aku sudah berusaha melompat setinggi mungkin.
“Mas Anang!” akhirnya lidahku bisa kugerakkan. “Mas Anang! Jangan pergi!”
Tapi Mas Anang sudah semakin tinggi dan sebentar lagi pasti hilang dari pandanganku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku cuma berharap setelah ini aku terbangun dan Mas Anang masih tidur di kasurnya di sebelahku.
-2006-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar