Rabu, 05 Mei 2010

PERI KECIL YANG CEROBOH




Desa Gunung Ratu tiba-tiba jadi heboh. Perkaranya di kebun jeruk milik Pemerintah Daerahnya ada satu pohon jeruk yang ajaib. Penduduk Desa Gunung Ratu menyebutnya begitu karena pohon jeruk itu berbuah apel. Aneh sekali kan?

Hari ini memang waktunya semua pohon jeruk di kebun itu berbuah secara bersamaan. Bakal-bakal buah jeruk yang kecil-kecil dan masih hijau mulai bermunculan, bergelantungan, dan tinggal tunggu beberapa minggu, buah-buah jeruk itu siap dipanen. Tapi tentu saja keberadaan pohon jeruk berbuah apel itu menggemparkan semua orang. Tidak ada yang tahu bagaimana hal ajaib itu bisa terjadi.

Dibalik itu semua, di sebuah tempat asing yang tidak terlihat menusia, sekumpulan anak-anak peri terperangah melihat ke sebuah pohon jeruk yang berbuah apel. Dan yang paling panik di antara mereka adalah Sisi, peri kecil yang melayang-layang di dekat pohon itu sambil mendekap tongkatnya dengan tangan gemetaran. Keringatnya bercucuran, bahkan ia hampir menangis ketakutan.

Mereka adalah bangsa peri yang tubuhnya sangat kecil, bersayap, membawa tongkat, dan mereka mempunyai tugas mengatur pertumbuhan semua tanaman di bumi. Mereka yang membantu supaya bunga-bunga bermekaran, daun-daun bersemi, dan pohon-pohon berbuah. Tapi hari itu terjadi kesalahan fatal. Sisi, peri kecil itu, telah menyulap buah apel di pohon jeruk. Itu karena sifatnya yang ceroboh dan kurang berhati-hati. Sisi memang memiliki sifat seperti itu, sudah sering ia melakukan kesalahan akibat kecerobohannya. Ia pernah membuat lebah-lebah marah dan menyerang istana peri gara-gara Sisi iseng mengganggu dan membangunkan bayi lebah. Dan pagi itu ia membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya, kesalahan yang mungkin akan membuatnya diadili hingga ke hadapan Raja. Iiih, Sisi ngeri membayangkannya. Sebenarnya ia hanya ingin mencoba-coba kemampuannya menumbuhkan buah yang baru saja ia pelajari di sekolah seminggu yang lalu. Tapi ternyata dia belum menguasai ilmu itu. Dan akibatnya pohon jeruk yang seharusnya berbuah jeruk, kini berbuah apel. Dan Sisi tidak tahu bagaimana cara mengembalikan ke kondisi semula.

“Sisi, bagaimana ini?” tanya Rowan, salah satu teman Sisi.

“Ini salah Sisi, ini salah Sisi. Aku tidak ikut campur. Aku tidak mau ikut disalahkan,” ujar Marka, teman Sisi yang lain. Peri lainnya juga mengangguk setuju, semua takut turut disalahkan atas kejadian itu.

“Tapi aku takut. Tolong jangan ceritakan ini pada siapa pun. Pada orang tua kita, pada Ibu Guru, apalagi pada pengawas tanaman. Aku tidak mau diadili, aku tidak mau masuk penjara,” mata Sisi berkaca-kaca, ia mulai menangis.

“Tapi ini kan salahmu. Kita kan sudah dilarang menggunakan tongkat kita hingga kita lulus sekolah dasar. Siapa suruh kamu main-main tongkat itu. Kami tidak mau ikut dihukum gara-gara kesalahanmu,” sahut Maya.

“Tapi bagaimana pun juga kita harus menolong Sisi,” timpal Rowan.

“Menolong bagaimana? Kita kan tidak diperbolehkan berbohong dengan mengatakan bahwa Sisi tidak bersalah.”

“Ah, tolonglah berbohong saja. jangan bilang siapa-siapa,” Sisi sudah menangis tersedu-sedu.

“Tidak mungkin Sisi, cepat atau lambat pengawas tanaman akan mengetahui hal ini. Dan mereka pasti bisa menemukan siapa pelakunya. Akan lebih sulit lagi jika kamu tidak mengakui sedari awal.” Ternyata benar, dari kejauhan terdengar dengung sayap bergerak serentak. Itu adalah suara barisan terbang peri pengawas tanaman. Perri-peri kecil berhamburan melarikan diri. Mereka bersembunyi di balik rimbunnya dedaunan. Ketika pasukan peri pengawas tanaman itu lewat mereka serentak berhenti di depan pohon jeruk berbuah apel itu. Bukan hal yang sulit bagi mereka bila melihat ada kesalahan sedikit saja pada tanaman, mereka sudah sangat terlatih dengan hal itu.

“Siapa yang melakukan ini?” sang komandan berteriak marah. Ia berpaling menghadap pasukannya,

“Segera lakukan penyelidikan dan tangkap pelakunya!”

“Siap, laksanakan!” pasukan itu menyahut serempak. Sisi semakin gemetaran di tempat persembunyiannya. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia ingin lari, pergi jauh dan tidak kembali agar tidak perlu menerima hukuman.

Setelah pasukan itu pergi, peri kecil keluar lagi satu per satu. Mereka kembali berkumpul.

“Bagaimana ini?” Sisi sesenggukan.

“Sisi, kita tidak punya pilihan lain. Kita harus berterus terang,” jawab Rowan.

“Tapi pada siapa? Apa kita harus menyerahkan Sisi ke pengawas agar dia dipenjara?” tanya Maya.

“Bagaimana kalau kita bilang saja pada Ibu Guru. Ibu Guru pasti tahu jalan terbaiknya.” Semua setuju, termasuk Sisi, walau pun ia ketakutan setengah mati. Akhirnya terbanglah mereka ke rumah Ibu Guru. Mereka terbang perlahan-lahan, dan sepanjang perjalanan mereka tidak berkata apa pun. Semua saling diam.

Sesampainya di kerajaan peri ternyata berita tentang pohon jeruk berbuah apel sudah menyebar ke seluruh penduduk. Mereka semua terkejut dan bertanya-tanya siapa yang melakukan hal itu. Sisi semakin ketakutan melihat reaksi para peri itu. tapi dia tidak punya pilihan lain. Sesampainya mereka di rumah Ibu Guru, Ibu Guru sedang berbincang-bincang dengan tetangganya di depan pagar. Tampaknya Ibu Guru baru saja mendengar berita menggemparkan itu. Kemudian Ibu Guru melihat beberapa muridnya terbang mendekat.

“Selamat pagi, anak-anak manis. Senang sekali kalian main ke sini. Ayo masuk, Ibu akan menyediakan madu yang paling lezat untuk kalian.” Mereka mengikuti Ibu Guru masuk tanpa berkata apa-apa. Semuanya bingung. Setelah Ibu Guru menyediakan madu yang diletakkan pada sekuntum bunga, mereka mulai siap berbicara.

“Ibu Guru,” Rowan sebagai ketua kelas mewakili berbicara. Ibu Guru menunggu Rowan melanjutkan pembicaraannya dengan sabar.

“Ibu pasti sudah dengar tentang pohon jeruk berbuah apel kan?”

“Ya benar. Ibu baru saja dengar. Memangnya ada apa? Oh, jangan! Bukan kalian kan...?” Ibu Guru tidak sanggup meneruskan ucapannya. Dan tepat ketika itu Sisi meledak kembali tangisannya. Ibu Guru memandang Sisi terkejut.

“Sebenarnya yang melakukan itu Sisi, Bu,” ujar Marka.

“Betul begitu Sisi?” Sisi tidak sanggup menjawab. Ia hanya mengangguk sambil menutup wajahnya yang basah oleh air mata.

“Tapi Sisi tidak sengaja Bu,” Marka menambahkan.

“Iya Bu, Sisi tidak sengaja,” tambah Maya. Ibu Guru memeluk Sisi, berusaha menenangkannya.

“Sisi mencoba-coba tongkatnya pada pohon jeruk itu,” kata Rowan lagi.

“Maafkan aku, Ibu Guru. Jangan laporkan aku pada pengawas. Nanti mereka akan menghukumku dan memenjarakanku,” Sisi menangis tersedu-sedu di pelukan Ibu Guru.

“Tapi Sisi, kamu tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Dan Ibu yakin para pengawas tidak akan memenjarakanmu. Mereka cukup bijaksana untuk memahami bahwa kamu tidak sengaja. Jadi kita harus ke kantor pengawas. Bagaimana?” Ibu Guru berusaha membujuk dan meyakinkan Sisi bahwa semua akan baik-baik saja. Akhirnya Sisi dan semua peri kecil itu setuju untuk pergi ke kantor pengawas tanaman.

Kemudian pergilah mereka semua ke kantor pengawas. Di sana Ibu Guru mewakili peri kecil berbicara pada komandan. Komandan itu tersenyum-senyum saja mendengar penjelasan Ibu Guru.

“Baiklah Sisi, kamu memang bersalah,” ujar Komandan sambil memandang Sisi. Sisi sampai takut sekali.

“Tapi kamu tidak usah khawatir, kamu tidak akan dipenjara. Tapi kamu pasti akan mendapat hukuman. Dan hukuman itu akan saya serahkan pada gurumu. Mengenai pohon itu, serahkan saja pada kami. Pasukan kami akan memperbaiki kesalahannya dan mengubah buah-buah apel itu menjadi buah jeruk. Tapi kami harus melakukannya pada malam hari ketika manusia tidak ada yang melihat.” Betapa leganya hati Sisi dan teman-teman mendengar penjelasan Komandan. Mereka mengucapkan banyak terima kasih dan segera pergi dari situ.

“Nah Sisi, sebaiknya kamu mengambil pelajaran dari ini semua, juga kalian,” ujar Ibu Guru sambil terbang pulang sekeluarnya mereka dari kantor pengawas,

“Jangan sembarangan menggunakan benda-benda yang kita belum tahu betul cara pemakaiannya, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kalau kalian tetap ingin mencoba sesuatu pastikan ada peri dewasa yang bisa memantau kalian, apalagi kalau bisa membimbing kalian.” Semua peri kecil mengangguk mengerti.

“Untukmu Sisi, kamu tetap harus mendapat hukuman. Ibu akan menyimpan tongkatmu dan tidak akan Ibu kembalikan hingga kamu naik kelas pertengahan tahun ini. Tapi setiap kali pelajaran di kelas kamu boleh menggunakannya untuk keperluan belajar. Tapi kamu harus berhati-hati, karena sekali lagi kamu melakukan kesalahan, hukumannya akan semakin berat. Kamu mengerti?” lagi-lagi Sisi mengangguk tanpa bicara.

Dan bagaimana dengan warga Desa Gunung Ratu? Kegemparan kembali terjadi keesokan harinya ketika pohon jeruk berbuah apel itu kembali berbuah jeruk. Dan mereka semua menganggap bahwa kejadian kemarin adalah mimpi masal yang dialami oleh seluruh penduduk Desa.

-2006-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar