Rabu, 05 Mei 2010

DONOR DARAH, ROTI PISANG, DAN SUSU COKLAT


Kata Mas Idong di sini.


“Di aula depan SMU 2,” ujar Mas Idong sore kemarin sambil dikelilingi Dharu dan anak-anak kampung lainnya seperti biasa.


Dharu menyandarkan sepedanya pada sebatang pohon cemara. Sepertinya ia tidak salah. Di aulan depan SMU itu tampak ramai orang-orang. Aula itu disulap sedemikian rupa menjadi poliklinik dadakan. Papan-papan disusun membentuk ruangan di sudut aula, dan di bagian muka terdapat beberapa meja diatur berdampingan tempat petugas pencatat. Sedangkan sebuah spanduk besar bergambar palang merah bertuliskan ‘Pekan Donor Darah Palang Merah Indonesia’ tergantung di atasnya.


“Diapain sih mas?” tanya salah satu anak.

“Ditusuk jarum di sini,” Mas Idong menunjukkan lengannya yang diplester putih,

“Trus diambil darahnya.”

“Hiii…,” anak-anak perempuan bergidik ngeri.

“Sakit nggak mas?”

“Ya nggak, aku kan kuat.”

“Wah…,” mereka bergumam kagum.

“Aku pijitin ya mas.”

“Iya, di sini nih,” Mas Idong tidak mensia-siakan kesempatan yang ditawarkan. Anak-anak kecil penggemarnya itu memijit pundak, tangan, dan kaki layaknya raja. Kemudian Mas Idong mulai bercerita,

“Kan banyak tuh orang yang butuh darah, yang kecelakaan, ato yang mau dioperasi. Trus orang-orang yang sehat nyumbangin darahnya, gitu.”

“Ooo…,”

“Trus, habis diambil darahnya, buat gantiin darah kita yang diambil, kita biasanya dikasih makanan ato minuman apa… gitu.”

“O ya?”

“He eh, kalo Mas Idong sih tadi dapat susu coklat sama roti pisang.”

“Mana?”

“Ya udah abis lah. Kalo nggak buru diabisin ntar kalian pada minta.”

“Wuu…!”


Dharu agak ragu mendekat, tapi ia berusaha mengusir segala perasaan negatif. Ada banyak orang dewasa di situ, dan ia satu-satunya anak-anak. Dharu mengintip ke dalam ruangan yang berdinding papan. Di dalamnya terdapat 4 buah ranjang dan orang-orang yang berbaring di atasnya. Darah mereka dialirkan ke kantung plastik di sisi kepalanya. Dharu mendekati sebuah meja. Seorang wanita yang duduk di belakang meja itu adalah petugas pendaftar yang mencatat nama dan data diri para donor. Di belakangnya seorang pria tengah membagikan susu coklat kemasan kotak dan roti pisang pada para donor yang telah diambil darahnya. Dharu berdiri saja di depan meja.

“Ada apa, dik?” wanita itu bertanya pada Dharu,

“Ada yang bisa dibantu?”

“Mmm…,” Dharu ragu-ragu,

“Mau anu, mau donor darah, mbak,” segera saja Dharu menembus keraguannya. Wanita itu terdiam sejenak, dahinya berkerut, lalu sesaat kemudian dia tersenyum.

“Adik mau donor darah?” Dharu mengangguk mantap melihat sikap ramah dan bersahabat wanita itu.

“Dik, yang donor darah itu orang besar. Adik masih kecil, jadi belum boleh donor darah.” Dharu terdiam, kekecewaan merenggut hatinya. Tapi Dharu tak serta merta percaya, ia tidak beranjak dari tempatnya berdiri.

“Permisi ya dik, ada yang mau ke sini. Minggir dulu ya? Silakan pak!” seorang pria menggeser tempat Dharu. Dharu beranjak, tapi ia tak mau pergi jauh dari situ. Setelah pria tadi pergi, Dharu kembali ke depan meja. Wanita itu memandang bingung pada Dharu. Kemudian ia memanggil teman prianya yang sedang membagikan susu dan roti di belakangnya seraya memberi isyarat. Pria itu mendekati Dharu.

“Ada apa dik?”

“Mau donor darah,” jawab Dharu mantap. Pria itu tersenyum ramah.

“Wah, kamu anak baik ya? Tapi kamu masih terlalu kecil, belum boleh. Nanti kalo sudah besar, kalo sudah SMU baru boleh donor darah.” Dharu diam saja, lagi-lagi dia kecewa. Tapi pancaran matanya mengisyaratkan bahwa ia bersikeras pada niatnya. Pria itu meninggalkan Dharu, mereka pikir Dharu akan mengurungkan kemauannya. Tapi ternyata perkiraan mereka meleset. Dharu masih berdiri di situ.

Semenit, dua menit Dharu tidak juga beranjak. Pria dan wanita itu berpandangan kebingungan.

“Adik mau apa lagi? Kan tadi mas sudah bilang kalau sudah besar balik lagi ke PMI.” Akhirnya Dharu menunduk, ia hampir menyerah. Kemudian ia memandang lekat kardus di belakang meja.

“Kamu mau itu?” pria itu sekan mengerti pikiran Dharu. Dharu tetap diam, dia memandang pria itu dan kardus bergantian.

“Iya? Kamu mau itu?” Dharu tetap tak menjawab. Pria itu beranjak menuju kardus, mengambil sekotak susu coklat dan sebuah roti pisang, kemudian menyerahkannya pada Dharu.

“Ini, ambil!” Dharu ragu-ragu.

“Ambil aja nggak pa-pa.” Berbinar mata Dharu. Diraihnya susu coklat dan roti pisang itu. Pria dan wanita tadi berpandangan tersenyum. Dharu bergegas berlari. Ia mendekap susu coklat dan roti pisang di dadanya. Saking senangnya, Dharu lupa mengucapkan terima kasih. Tapi ia berjanji di hatinya, kalau sudah besar nanti ia akan mendonorkan darahnya tanpa mengambil susu coklat dan roti pisang, karena jatahnya sudah ia terima hari ini.

-2004-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar