Rabu, 05 Mei 2010

BARBEKYU DI WAJAH KAMI




Setiap bulan ramadhan seperti sekarang ada hal-hal tertentu yang selalu kutunggu-tunggu. Dan pastinya ditunggu juga oleh teman-temanku. Berkeliling kampung sambil memukul kentongan dan galon aqua ketika waktu sahur tiba adalah salah satunya. Bayangkan, kapan lagi mengganggu orang dengan suara super berisik di tengah malam tanpa dimarahi oleh orang lain. Tidak perlu takut dijewer apalagi sekedar dapat desisan ibu, “Ssst!” sambil melotot. Bahkan kegiatan seperti ini mendapat pujian dari Pak Ustadz.

“Membangunkan orang di waktu sahur adalah salah satu bentuk ibadah. Jadi kalau kamu mau berkorban dengan bangun lebih awal dari orang lain, lalu berjalan keliling kampung, berarti kamu selangkah lagi menuju kesalihan,” begitu katanya.

Selain itu, ada berburu kolak dan gorengan waktu berbuka. Biasanya di sore hari, ibu menyelipkan beberapa lembar ribuan di tanganku. Lalu aku akan bersepeda bersama Tikno, sahabatku, menuju tempat penjualan penganan berbuka. Dan bebas memilih apa saja yang ada di sana. Atau kalau hari libur ayah akan memboncengku dan adikku naik sepeda motor. Sesudah membeli makanan berbuka, kami akan berjalan-jalan menghabiskan waktu. Dan itu adalah waktu favoritku.

Satu lagi yang kusuka adalah acara barbekyu dengan teman-teman di masjid. Bakar-bakar pake arang. Bedanya yang kami bakar bukan daging, melainkan corn barbekyu alias jagung bakar. Dan ini selalu kami lakukan di malam pertama liburan sekolah menjelang lebaran. Seperti perayaan kecil-kecilan atas liburan esok hari dan lebaran yang akan datang.

Dan bagian yang paling dihindari oleh semua adalah membereskan sisa-sisanya. Biasanya begitu kami selesai menyantap semua jagung, seperti tupai-tupai sirkus kelaparan, kami lari menyelamatkan diri masing-masing. Yang tertinggal terakhir adalah yang ketimpa sial. Dia harus membersihkan sisa-sisa arang dan abu, menyapunya, bahkan mengepel lantai teras masjid yang terkena jelaga. Itu seperti kesepakatan tidak tertulis di antara kami.

Dan kali ini akulah si sial itu. Gara-gara keserakahanku memilih jagung yang paling besar di awal acara barbekyu kami. Padahal jagung paling besar artinya paling lama juga matangnya. Dan Tikno sedari awal sudah berencana menjerumuskan aku dalam kesialan. Dia membakar jagung pilihanku paling akhir. Walhasil aku harus menunggu lebih lama dari teman-teman yang lain. Dan ketika mereka hampir habis menyantap jagungnya, aku baru saja mulai. Dan tinggallah aku sendiri di sini sambil berkelut dengan jagung super jumboku. Rasanya setiap kali digigit, butir-butir bijinya akan langsung tumbuh lagi. Lama sekali habisnya. Dan Pak Ustadz sudah melotot dari dalam masjid.

Butuh waktu yang cukup lama membereskan ini semua. Sementara teman-temanku sudah mulai tidur daritadi, aku baru saja menuntaskan tugasku. Diam-diam kuselipkan sepotong arang sisa di lipatan sarungku. Lalu menyeringai nakal sambil memperhatikan Tikno yang sudah terlelap di bagian tepi masjid. Aku akan membalas perbuatan Tikno padaku.

Teman-temanku sudah terlelap, bergelimpangan di pinggiran masjid seperti ikan-ikan asin yang dijemur di pinggir pantai. Hoaam! Aku menguap dan mencari posisi yang nyaman di samping Tikno. Tapi sebelumnya, aku tak akan bisa tidur kalau belum melakukan niatku. Aku celingak celinguk ke kiri kanan, memperhatikan teman-temanku satu per satu. Seperti maling yang mau masuk ke rumah sasarannya. Oke, mereka sudah tidur. Lalu kulukis wajah Tikno dengan arang yang kuambil tadi. Lingkaran di sekeliling matanya, lingkaran di sekeliling mulutnya, lalu garis-garis semrawut di pipi dan dahinya. Kututup mulutku agar tidak tertawa. Rasain kamu! Bangun tidur nanti jadi lenong. Batinku dalam hati. Lalu kurebahkan tubuhku. Rasanya aku akan tidur nyenyak sekali malam ini. Seperti tidurnya prajurit yang pulang dari perang membawa kemenangan.

Bret!

”Ayo bangun! Bangun!”

Tergopoh-gopoh aku bangun, seperti mesin yang otomatis dinyalakan. Pak Ustadz sudah membangunkan kami dengan sabetan sarungnya. Dan tidak ada alasan untuk malas-malasan, kalau tidak mau disiram air sama Pak Ustadz sambil ditertawakan yang lain. Dan kurasakan Tikno juga mulai terbangun di sisiku. Teman-teman yang lain juga mulai mengucek mata dan menguap. Lalu seperti dikomando, ledakan tawa mulai terdengar. Pertama satu orang, dan ini memancing yang lain juga ikut tertawa. Mereka semua tertawa sambil menunjuk Tikno yang duduk di sebelahku. Aku tahu apa alasannya, maka aku juga ikut tertawa. Sisasatku berhasil, tujuan tercapai. Ucapku dalam hati penuh kemenangan. Aku ikut tertawa bersama mereka sambil menunjuk wajah Tikno. Tapi lho kok... Tikno juga tertawa sambil menunjuk wajahku? Lalu kusadari teman-teman yang lain tidak hanya menunjuk Tikno, tapi juga menunjuk padaku? Aku terdiam, Tikno juga terdiam. Kami seperti dua ekor topeng monyet yang ditunjuk-tunjuk sambil ditertawakan oleh penonton. Sontak aku lari ke belakang, ke kamar mandi pria. Dan Tikno juga mengikutiku. Aku langsung menuju cermin dan Tikno juga menghambur di sebelahku. Dan itulah kami berdua. Dua wajah penuh coreng moreng hitam kelihatan di cermin.

“Kamu ya?” tuduhku pada Tikno.

“Enak aja, kamu yang gambari aku kan?” balasnya sambil menunjuk wajahnya sendiri. Dan sesudahnya kami tidak bicara lagi, melainkan saling menarik kepala dan berusaha menjatuhkan. Kami bergumul di lantai kamar mandi. Sarungku terangkat ke kepala dan menutupi mataku, dan sarung Tikno membelit kakinya membuat tendangannya tidak terlalu berhasil. Aku tidak tahu bagaimana aku dan Tikno waktu itu, yang jelas teman-teman yang lain sudah mendekat dan mengelilingi kami. Ada yang berteriak menghentikan, ada yang tertawa terpingkal-pingkal. Sama sekali bukan perkelahian yang keren seperti di film-film. Gara-gara sarung yang kami kenakan, mungkin waktu itu kami lebih mirip dua dakocan yang terbelit tali dan saling bergumul untuk melepaskan diri.

Sampai akhirnya Pak Ustadz yang datang sendiri dan melerai kami dibantu beberapa teman yang lain. Sesudah itu siapa pun bisa mengira apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku dan Tikno berdiri di salah satu sudut masjid sambil menunduk malu. Pak Ustadz memarahi kami. Aku tidak bisa menangkap dengan jelas apa yang diucapkan Pak Ustadz. Yang berhasil kuingat hanya memalukan, tidak boleh berkelahi, anak soleh, dihukum, dan salaman. Akhirnya aku dan Tikno bersalaman. Sekilas kupandang wajahnya. Goresan arang tadi sudah tidak jelas lagi, malahan seluruh wajahnya menghitam. Dan mungkin aku juga begitu. Aku ingin tertawa, tapi aku masih merasa kesal dan gengsi juga.

Masalahnya lagi adalah tidak ada persediaan sabun di masjid. Yang ada di sini cuma cairan pembersih lantai. Walhasil kami terpaksa pulang ke rumah dengan wajah hitam seperti ini. Maka kututup wajahku dengan sarung, Tikno juga melakukan hal yang sama. Dan aku pun beranjak pulang. Meski pun rumahku searah dengannya dan setiap hari kami berangkat dan pulang bersama, tapi tidak kali ini. Tikno berjalan lebih cepat dari aku dan langsung berbelok begitu sampai di rumahnya.

Sesampainya di rumah, kuketuk pintu. Dan ibu yang membuka pintu. Ibu menatapku heran, tapi tidak bertanya apa-apa. Untung saja sarungku berhasil menyembunyikan wajahku. Tapi tak perlu menunggu lama, besok ibu pasti akan tahu apa yang terjadi malam ini. aku langsung menghambur ke kamar mandi dan mencuci mukaku. Lalu duduk di meja makan sambil menidurkan kepalaku di mejanya. Sebenarnya aku tidak tidur, aku masih bisa mendengar sayup-sayup suara pukulan galon aqua dan teriakan teman-teman di kejauhan. Aku hanya tidak mau ditanya macam-macam saja. Dan aku enggan ikut berkeliling, malam ini aku absen dulu.

Setelah sholat subuh aku hendak tidur lagi. Kalau hari libur begini biasanya aku pergi bersepeda dengan Tikno. Lalu siangnya baru aku tidur sampai dhuhur. Tapi kali ini, kamu pasti sudah tahu alasannya. Lagipula kupikir Tikno pasti juga sama malasnya menemuiku. Tapi kok mataku tidak mengantuk ya? Sepertinya rasa bersalah dan rindu pada Tikno menyerap semua rasa kantukku. Maka aku beranjak saja ke garasi. Kuraih sepeda yang terparkir di samping sepeda motor ayah. Dan kukayuh pedalnya perlahan sambil agak malas-malasan. Aku memilih jalan yang berlawanan dengan rumah Tikno. Jadi aku bisa menikmati pagi ini sendiri saja dulu.

Baru seratus meter dari rumahku aku sudah merasa kesepian. Rasanya tidak enak juga bersepeda sendiri seperti ini. Apalagi pagi-pagi begini jalanan masih sepi. Kebanyakan orang tidur lagi setelah subuh. Maka aku pun berbalik arah dan memilih untuk pulang saja. Tapi begitu aku berbalik aku melihat wajah yang sudah sangat kukenal, lengkap dengan sepeda yang juga sudah sangat kuhapal. Tikno. Dia berhenti dan menatapku, aku juga menatapnya. Seperti dua koboy di film yang siap saling menembak pada jarak dua puluh langkah. Lalu tanpa kusangka Tikno mendekatiku sambil tersenyum, meski pun senyumnya agak dipaksakan.

“Ke danau yuk!” ajaknya padaku. Aku pun tersenyum. Tanpa perlu dijawab, kami berdua mengayuh sepeda kami dan berjalan menuju sungai. Dalam hati aku berpikir, ternyata tidak enak juga rasanya kalau dikerjain orang lain. Dan ternyata Tikno lebih kesatria dan berhati besar daripada aku.

-2009-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar