Rabu, 05 Mei 2010

SAHABAT PENA




“Suci, lihat apa yang kubawa,” dengan mata berbinar Dewi membuka tasnya begitu ia sampai di kelas. Suci menunggu dengan tidak sabar dan hati berdebar. Sepertinya Dewi membawa sesuatu yang sangat hebat hari itu.

“Taraa!” Dewi menunjukkan sebuah amplop berwarna biru muda bergambar Putri Jasmine di depannya. Wajah Suci berubah seketika. Ia sudah bisa menyangka apa itu.

“Aku dapat teman baru lagi, dan hebatnya lagi yang ini dari Papua. Namanya Loka, Arnantea Loka. Namanya bagus ya?”ujarnya sambil menyerahkan surat itu pada Suci.

“Wah, kemarin aku sampai teriak-teriak deh. Coba kamu baca. Anaknya baik banget. Cuma ada beberapa kalimat yang perlu agak lama aku paham, soalnya kan pake dialeg papua. Tapi setelah aku baca berulang kali, baru aku ngerti apa maksudnya,” Dewi bercerita penuh semangat, ia sama sekali tidak menyadari perubahan wajah Suci.

Pikiran Suci menerawang sendiri, dia hampir tidak mendengarkan cerita Dewi juga tidak memperhatikan benar surat yang sedang ia baca. Di hatinya hanya berkecamuk berbagai macam pikiran. Untung saja bel segera berbunyi, jadi dia bisa menghindar dari cerita Dewi dan surat itu. Tapi selama pelajaran tetap saja ia tidak bisa berkonsentrasi.

Memang sejak 4 bulan yang lalu, sejak Ibu Guru membagikan sebuah majalah gratis tentang korespondensi, Dewi dan Suci, dua bersahabat sejak kelas 2 SD hingga sekarang kelas 5 SD, jadi punya hobi baru, yaitu korespondensi. Mereka mencoba mengirim surat pada siapa saja alamat yang mereka temukan di berbagai media massa. Mulai dari majalah korespondensi yang mereka dapatkan dari Ibu guru, majalah anak-anak, koran untuk anak-anak, hingga artis cilik.

Dan satu bulan kemudian Dewi mulai mendapat balasan. Pertama dari Purnama, anak Riau. Kemudian dari Asep, anak Cianjur, dan sekarang yang terbaru Loka dari Papua. Bahkan dengan Purnama dan Asep sudah beberapa kali Dewi saling berbalas surat. Sementara Suci, tidak satu pun suratnya dibalas, tidak satu pun sahabat pena ia dapatkan. Ia tak habis pikir, apa yang salah dengan surat-suratnya. Apakah dia tidak bisa menulis surat sebaik Dewi? Apakah tulisannya terlalu jelek sehingga yang mendapat suratnya malas untuk membalas?

Padahal dia sudah memenuhi semua aturan menulis surat yang baik, berbicara dalam bahasa yang sopan, tidak menyinggung, memperkenalkan diri dengan biodata secukupnya, dan menyertakan sebuah foto. Tapi mengapa ia tidak seberuntung Dewi? Diam-diam Suci jadi sedih, dia juga mulai iri pada Dewi. Suci memandang Dewi sejenak. Ya, Dewi memang lebih cantik dari dirinya, pantas saja mereka mau membalas suratnya. Lagi pula Dewi anak yang menyenangkan, dia juga pandai melucu. Pasti dia bisa membuat sebuah surat yang dapat membuat pembacanya terpingkal-pingkal. Seharian itu Suci jadi pemurung, kepalanya jadi sakit dan pusing.

“Suci, kamu sakit? Kamu pucat,” ujar Dewi dan menyentuh kening Suci.

“Aku pusing,” jawab Suci. Dewi mengacungkan jarinya dan berkata pada Ibu Guru bahwa Suci sakit. Ibu guru memerintahkan Dewi untuk mengantar Suci ke UKS. Mereka berdua pergi ke UKS dan Suci berbaring di situ.

“Kamu perlu apa? Kamu belum sarapan? Aku belikan makan ya?” tanya Dewi. Suci menggeleng perlahan.

“Aku mau istirahat saja, kamu kembali saja ke kelas, aku nggak apa-apa kok.”

“Maaf ya aku nggak bisa nemenin kamu.” Dewi beranjak kembali ke kelas. Suci termenung sendiri. Ia menatap langit-langit ruang UKS, pikirannya tetap menerawang. Tapi tiba-tiba dia mendapat ide. Dan sepertinya itu ide yang cukup bagus.

Beberapa hari kemudian di sekolah Suci menunjukkan sepucuk surat pada Dewi.

“Dewi, lihat, aku dapat surat.”

“Wah, lihat donk.” Dewi sangat senang mendengarnya. Mereka lalu membaca surat itu bersama. Dari seorang anak bernama Novia, dari Samarinda. Novia anak yang menyenangkan, dia senang bermain basket bersama ayahnya, dan dia juga sering bermain ke pantai bersama keluarganya. Sayangnya tidak ada foto Novia di situ, tapi Novia berjanji akan memberi foto suatu saat nanti. Suci senang sekali. Dia berkata betapa terkejutnya ia ketika kemarin pak pos datang ke rumahnya dan menyerahkan surat itu untuknya. Dewi ikut berbahagia untuk Suci. Dan hari itu mereka merasa sangat bersemangat.

Dua hari kemudian Suci kembali menunjukkan sepucuk surat dari Candra di Cirebon. Dan tiga hari kemudian datang lagi surat dari Eka di Padang. Setiap kali datang surat, Dewi selalu diijinkan membacanya. Seperti Dewi mengijinkan Suci membaca surat dari sahabat penanya. Ketika istirahat Dewi meminjam lagi surat dari Eka itu. Dia belum selesai membacanya.

“Boleh. Tapi aku ke perpustakaan ya, aku mau pinjam buku dongeng untuk adikku. Aku sudah janji sama dia,” ujar Suci.

“Oke,” jawab Dewi. Maka tinggallah Dewi sendiri di bangku mereka. Dewi membaca surat Eka itu. Di surat itu Eka bercerita bahwa ia dan keluarganya punya hobi berbelanja kemudian memasak bersama, bahkan Ayahnya pun senang memasak. Tiba-tiba Dewi merasa ada sesuatu yang janggal. Tapi dia tidak tahu apa itu. Kini Dewi yang tidak bisa berkonsentrasi saat pelajaran.

Keesokan harinya saat istirahat Dewi menolak ajakan Suci untuk pergi ke kantin. Maka Suci meninggalkannya sendiri di kelas. Ketika Suci pergi diam-diam Dewi membongkar tas Suci. Sesuai harapannya Suci masih membawa tiga surat dari sahabat penanya itu di tasnya. Dewi membuka semua surat itu dan menjajarkannya kemudian memperhatikan satu per satu.

Sesuai dugaannya ada yang mencurigakan dari ketiga surat itu. Ketiganya menggunakan ballpoint berwarna biru, sepertinya dengan tinta yang sama. Ketika Dewi membaca lagi sekilas ia merasa bahwa gaya bahasa dalam surat itu pun hampir sama. Padahal surat-surat dari tiga sahabat penanya selalu memiliki kekhasan masing-masing. Dan yang paling mencurigakan tulisannya pun mirip, bahkan mirip dengan tulisan tangan Suci sendiri. Perasaan Dewi jadi tidak enak. Dia takut membayangkan apa yang ia pikirkan.

Segera ia masukkan kembali surat-surat itu ke tas Suci dan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi hatinya semakin gelisah. Ia tidak ingin berburuk sangka pada Suci, tapi dia juga tidak bisa diam saja. Ia harus bertanya pada Suci daripada terus-terusan berpikir yang tidak-tidak, apalagi kalau persangkaannya benar maka ia harus mengingatkan Suci. Tapi ia takut Suci marah dan menuduhnya sebagai teman yang tidak mempercayai sahabatnya. Dewi bingung harus bagaimana.

Ketika makan siang di rumah Dewi hanya memandang nasi di piringnya. Mamanya heran melihat sikap Dewi yang tidak seperti biasanya.

“Kenapa sih Dewi? Dari kemarin kamu kelihatan murung, bingung, kamu mau cerita sesuatu sama Mama?” Dewi terdiam sesaat kemudian menarik napas panjang.

“Ma, boleh nggak sih kita buruk sangka sama orang?”

“Ya nggak boleh dong sayang.”

“Tapi gimana kalau ternyata persangkaan kita itu benar? Gimana kalau ternyata orang itu memang bersalah seperti perkiraan kita?”

“Dewi, kadang-kadang kita memang nggak bisa menghindar untuk curiga sama seseorang. Tapi kita nggak bisa terus-terusan curiga tanpa klarifikasi.”

“Klarifikasi itu apa, Ma?”

“Klarifikasi itu minta penjelasan pada seseorang, betul atau tidak persangkaan kita itu. Soalnya kalau kita nggak minta klarifikasi bisa-bisa kita bikin kesimpulan sendiri yang akan memfitnah orang itu.”

“Jadi kalau kita curiga seseorang berbuat kesalahan, kita tanya langsung sama orang itu, gitu?”

“Betul sekali, anak Mama pintar.” Dewi terdiam lagi, ia merenungkan perkataan Mama barusan.

Dewi memandang Mamanya. Dia merasa Mama sangat bijaksana. Mama tidak ingin mencampuri urusan anaknya dengan menanyakan masalah pribadinya, tapi Mama selalu bisa memberikan jalan keluar untuk setiap permasalahannya. Dewi memeluk Mamanya,

“Makasih ya Ma.”

“Ya sudah, sekarang kamu makan ya. Nanti keburu perutmu nyanyi dangdut.”

Seperginya Mama, Dewi sudah tahu apa yang harus ia lakukan.

Sore itu Dewi mengayuh sepedanya ke arah rumah Suci. Ia ingin menanyakan langsung pada Suci tentang surat-suratnya itu. Namun ternyata Suci tidak ada di rumah, ia sedang pergi berenang dengan ayahnya. Dewi hanya bertemu dengan Ibu Suci. Ibu Suci mempersilakannya masuk dan menyuguhkan segelas tes manis dan pisang goreng. Dewi duduk di ruang tamu sambil menunggu Suci pulang.

“Tunggu saja dulu, Wi. Mungkin juga sebentar lagi Suci pulang. Ayo diminum tehnya!”

“Makasih, Tante,” jawab Dewi.

Namun tidak lama kemudian datang seorang tamu. Ibu Suci meminta Dewi untuk menunggu Suci di kamarnya saja. Dewi pun beranjak ke kamar Suci di lantai dua.

Dewi masuk ke kamar Suci, kamarnya rapi dan bersih. Kasurnya ditutup sprei yang cantik dan wangi. Buku dan tasnya tersusun rapi di atas meja, beberapa spidol, ballpoint, dan pensil juga tersimpan di kaleng cantik di situ. Sebuah tempat sampah mungil berwarna biru muda terletak di ujung meja, sehingga memudahkan Suci untuk membuang sampah. Dewi duduk di kursi belajar Suci, ia memandang kamar itu berkeliling. Ini bukan pertama kalinya ia kemari, namun entah mengapa nalurinya memerintahkan ia untuk memperhatikan setiap detil kamar itu.

Tiba-tiba pandangannya tertumbuk ke dalam tempat sampah. Dewi melihat beberapa remasan kertas di situ. Ia mengambilnya dan mengurai kertas itu sehingga ia bisa membaca tulisannya. Betapa terkejut hati Dewi. Ia kenal kalimat yang tertulis itu, kalimat-kalimat di surat Eka. Dengan tangan gemetar Dewi membuka kertas-kertas yang lain, ia menemukan hal yang sama. Surat Eka yang belum selesai dan tampak dicoret di beberapa bagian. Dewi langsung lemas, jantungnya berdetak cepat. Apa yang ia takutkan ternyata benar. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Suci sudah berdiri di situ.

“Hai Wi, Ibu bilang kamu di si...,” senyum manis di wajah Suci lenyap seketika begitu ia melihat apa yang ada di tangan Dewi.

“Kamu ngapain? Membongkar kamarku tanpa ijin?” Suci langsung meledak marah sambil merebut kertas di tangan Dewi.

“Aku yang seharusnya marah, kamu sudah bohong sama aku. Semua surat-surat itu bohong kan? Dari Novia, Candra, Eka, semua itu bohong. Betul kan? Semua itu khayalan kamu saja? Kamu tulis sendiri dan kamu kirim ke rumahmu dengan alamat palsu.”

“Iya memang, kalau benar kenapa? Kamu senang? Kamu sudah merasa menang dengan unggul dari aku, dapat banyak sahabat pena dan berhasil menangkap basah aku?”

“Siapa yang senang? Kamu pikir aku senang dibohongi? Apalagi yang membohongi aku sahabatku sendiri? Kukira selama ini kamu sahabat yang baik, ternyata kamu cuma seorang pembohong besar!”

Tiba-tiba Suci menangis, ia terduduk lemas di atas kasurnya dan menangis sesenggukan.

“Aku iri sama kamu, Dewi. kamu bisa dapat banyak sahabat pena, sedangkan aku nggak satupun. Setiap kali kamu bawa surat ke sekolah kamu selalu kalihatan bangga dan senang. Apalagi waktu kamu dapat surat dari Papua. Aku juga ingin ngerasa senang kayak kamu. Aku juga malu sama kamu, aku nggak dapat sahabat pena. Setiap hari aku nggak putus asa nungguin tukang pos datang, tapi nggak ada satu pun. Akhirnya aku nekat berbuat ini. Kamu kira aku senang ngelakukin ini? Aku selalu gelisah, soalnya aku takut ketahuan, juga takut dosa,” Suci menangis sesenggukan sambil menutup wajahnya denganbantal. “Maafin aku, Wi.” Dewi terharu menatap Suci. Ia tidak menyangka kalau ternyata selama ini Suci punya perasaan seperti itu. Ia memeluk Suci.

“Aku yang seharusnya minta maaf, Suci, aku yang salah. Selama ini aku nggak memperhatikan kamu, aku sama sekali nggak peduli dan nggak peka kalau sahabatku punya perasaan kayak gini. Maafin aku ya, aku sudah lancang bongkar-bongkar barang kamu tanpa ijin.”

“Aku malu sama kamu, Wi. Aku nggak bisa nulis surat sebaik kamu.”

“Nggak usah malu. sekarang aku paham. Lagipula siapa yang bilang kamu nggak bisa menulis surat dengan baik. Buktinya surat-surat yang kamu tulis itu semuanya sangat indah, walau pun itu surat palsu.” Suci tertegun mendengar kalimat Dewi. Suci merasa perbuatannya itu sangat konyol.

“Kalau kamu mau kamu bisa tulis surat untuk sahabat penaku dan kenalan sama mereka. Aku yakin mereka pasti juga mau kenalan sama kamu.”

“Makasih ya Dewi, kamu memang sahabatku yang paling baik.” Mereka berpelukan kembali.

“Oh iya, kamu ada perlu apa ke sini?” tanya Suci sambil mengusap matanya.

“Eh emm, cuma pingin main aja kok,” jawab Dewi terbata-bata.

Keesokan paginya Dewi melihat Suci berlari-lari menuju kelas sambil mengacungkan sesuatu di tangannya,

“Dewi! Dewi! Lihat ini!” Suci menyerahkan sepucuk surat dengan amplop coklat muda.

“Akhirnya aku punya sahabat pena.” Dewi membuka surat itu dan membacanya. Dari Iffan, di NTB. Dan kali ini Dewi percaya Suci tidak berbohong, karena ada sebuah foto di dalamnya. Dewi bahagia sekali, sebahagia Suci.

-jogja, 2003-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar