Rabu, 05 Mei 2010

BOLA-BOLA PLANET LABO




“GOOLLL!!!” Arif, Setyo, dan Dedy berlari serentak sambil mengacungkan tangannya ke udara. Kemudian mereka menabrakkan dada di tengah lapangan lalu menari-nari kegirangan. Sementara Coki dan Erfan hanya mengeluh dan menatap Pandu tidak mengerti.

“Pandu!” teriak Coki pada Pandu.

“PANDU!!” kali ini Coki dan Erfan berteriak bersamaan. Mereka heran dan setengah marah melihat Pandu yang hanya berdiri terpaku menatap ke semak-semak di tepi lapangan. Ia sama sekali tidak menghiraukan bola yang menjebol pertahanan gawangnya atau pun teriakan Coki dan Erfan padanya.

“Kamu ngapain sih?” tanya Erfan kesal.

“Ada sesuatu di sana,” Pandu menunjuk ke arah semak-semak yang dipandangnya. Erfan, Coki, Arif, Setyo, dan Dedy jadi tertarik pada sesuatu yang dilihat Pandu itu. Mereka mendekati Pandu dan memandang ke semak-semak itu juga. Awalnya mereka tidak menemukan apa pun. Namun tiba-tiba dua bola mata besar sebesar bola pingpong menatap mereka kemudian berkedip sesaat.

“Lihat! Apa itu?” teriak Pandu sambil menunjuk mata yang berkedip barusan. Mereka pun berlarian ke arah dua bola mata tadi. Tapi bola mata itu sudah hilang. Mata itu sangat aneh. Rasanya kalau itu mata seekor binatang pasti binatang yang sangat besar. Tapi mereka tidak menemukan tubuh besar berbulu atau ekor panjang mengkilat yang keluar dari semak-semak itu. Pandu melangkah semakin mendekat.

“Pandu, hati-hati!” ujar Setyo memperingatkan. Pandu tak mempedulikan peringatan Setyo. Dia melangkah lagi hingga perutnya menempel pada semak-semak itu. Kemudian dia menyibak daun-daun lebatnya. Tiba-tiba sesuatu melompat muncul dari tengah semak-semak yang disibak oleh Pandu. Sesuatu itu berbentuk bulat, sebesar bola basket. Benda itu melayang sangat tinggi kemudian menghilang begitu saja. Keenam anak laki-laki tadi terdiam tak bisa bicara. Mereka baru saja melihat entah bola atau hewan, mereka tidak pasti. Yang jelas dia hidup dan bisa melompat.

“Apa itu?” tanya Dedy setelah sesaat mereka terdiam terpaku.

“Sesuatu,” sahut Coki, “Sesuatu yang bulat berwarna kuning dan dapat melompat.”

“Tidak, warnanya ungu,” sahut Arif.

“Menurutku kuning,” kali ini Pandu yang bicara.

“Mataku melihatnya ungu,” sela Setyo.

“Sepertinya kuning,” ujar Dedy. Mereka berlima serentak menoleh pada Erfan yang belum bicara.

“Ungu,” sahut Erfan perlahan.

“Entahlah. Ungu atau kuning yang jelas benda tadi sangat aneh. Aku belum pernah melihat benda seperti itu,” ujar Pandu.

“Aku mau pulang saja. Aku jadi ngeri dengan tempat ini,” kata Coki.

“Aku juga,” sahut Setyo. Yang lain pun setuju. Akhirnya mereka melangkah pulang dengan saling diam.

“Mungkin aku akan bercerita pada kakakku tentang apa yang baru saja kita lihat,” ujar Dedy.

“Apakah dia akan percaya? Kupikir tidak. Tidak akan ada orang yang percaya kita baru saja melihat benda aneh berbentuk bola berwarna ungu atau kuning hidup dan melompat meninggalkan kita,” kata Coki.

“Yah, kau benar. Tidak akan ada yang percaya,” kata Dedy lagi.

Sementara itu di tempat lain yang sangat jauh dari lapangan tempat mereka bermain, bahkan sangat jauh dari permukaan bumi, sebuah benda berbentuk seperti telur melayang perlahan di permukaan sebuah planet yang bentuknya bulat seperti bola, lalu mendarat di tanah yang berbulu lembut dan berwarna biru terang. Bagian atas telur itu membuka, menampakkan isinya yang berbentuk datar dan berlapis bulu lembut berwarna putih dengan lubang-lubang seukuran lebih besar dari bola basket. Di setiap lubang itu terdapat satu benda bulat sebesar bola basket. Lalu salah satu bola berwarna kuning totol-totol ungu melompat dan mendarat di tanah kemudian memantul-mantul sendiri tanpa ada orang yang menggerakkannya. Bola itu terus memantul kemudian menggelinding bila jalannya menurun. Di sekitarnya juga banyak bola-bola lain yang memantul-mantul dan menggelinding-gelinding ke berbagai arah dengan warna dan motif yang berbeda-beda. Bila diperhatikan tempat itu sangat indah dengan berbagai warna bola dan lapisan tanah berbulu lembut berwarna biru terang.

Ya, itu adalah sebuah planet, planet yang lain dari bumi, mars, venus, dan semua planet yang kita ketahui. Planet itu bernama planet Labo. Planet Labo berbentuk bulat berlapis bulu lembut berwarna biru terang. Penduduk penghuni planet itu juga berbentuk bulat seperti bola dengan warna yang berbeda-beda. Ada yang kuning totol ungu, hijau bergaris abu-abu, atau pun putih polos. Ukurannya berbeda-beda sesuai usianya, yang bayi sebesar bola tenis, yang lebih besar seukuran bola volly, dan yang dewasa seukuran bola basket. Cara mereka berjalan dengan memantul dan menggelinding. Bila mereka berjalan mereka menutup kelopak matanya, namun mereka memiliki sensor agar tidak bertabrakan dengan yang lain. Dan setelah berhenti baru mereka membuka mata.

Tiba di sebuah ruangan bola kuning totol-totol ungu itu berhenti. Lalu ia berputar sesaat, kemudian terbukalah dua bola mata sebesar bola pingpong mengerjap-ngerjap sesaat. Di hadapannya sebuah bola berwarna perak duduk di sebuah kursi dengan dudukan bulat berlapis bulu lembut berwarna hitam. Ia terlihat sangat agung duduk di kursi itu.

“Bagaimana perjalanmu ke bumi, Aton?” ujar bola perak itu melalui mulutnya yang seperti sobekan di bawah mata.

“Ehm Ketua, saya ingin melaporkan sesuatu,” ujar bola kuning totol-totol ungu yang bernama Aton itu pada bola perak yang ternyata adalah ketuanya. Sang ketua hanya mendehem perlahan menanti Aton bercerita, “Eh, penduduk bumi ternyata sangat jahat, Ketua. Ternyata di sana ada juga mahluk-mahluk yang sebangsa dengan kita, bentuk tubuhnya sama seperti kita. Tapi… tapi… hhh!” Aton menghela napas berat. “Tapi mereka mempermainkan mereka, Ketua,” mata Aton melotot penuh amarah.

“Mempermainkan?” tanya Ketua. Kali ini matanya sedikit menyipit dan tubuhnya sedikit menggelinding ke depan di kursinya, seakan-akan ia ingin melihat Aton dari atas kepalanya.

“Benar, Ketua. Mereka menendang, memukul, meninju, bahkan menginjak-injak mereka, Ketua.”

“Kau yakin, Aton?” Ketua sangat terkejut, matanya masih menyipit dengan suara yang ditekan dalam.

“Saya yakin sekali, Ketua. Saya melihat sendiri kejadian itu. Tidak hanya di satu tempat, tapi hampir di seluruh permukaan bumi, manusia penduduk bumi itu memperlakukan bangsa kita dengan sangat jahat,” kali ini Aton sudah sangat emosi. Dia melompat-lompat dengan cepat. Ketua terdiam sesaat, di atas matanya terbentuk garis melintang menandakan ia berpikir keras.

“Kita harus segera bertindak,” ujar Ketua.

“Betul Ketua! Betul Ketua!” lompatan Aton semakin tinggi.

“Kita harus turun ke bumi dan menyelamatkan saudara-saudara kita.”

“Betul Ketua! Betul Ketua!” dan semakin tinggi lagi.

“Kita akan membawa saudara-saudara kita itu ke sini.”

“Ayo Ketua! Ayo Ketua!” lalu semakin cepat.

“Kalau manusia-manusia itu tidak bersedia menyerahkan mereka maka kita akan memaksa mereka.”

“Iya Ketua! Iya Ketua!” kali ini lompatan Aton sangat tinggi hingga menyentuh langit-langit ruangan.

“SIAPKAN PESAWAT DAN PASUKAN. KITA BERANGKAT MENUJU BUMI!” Ketua melenting turun dari kursinya dan melompat-lompat keluar ruangan diikuti Aton dan para prajurit berwarna hijau putih bercorak telur puyuh. Dalam sekejap pasukan bola-bola bersiap. Mereka menyalakan 10 pesawat tempur. Ketua dan Aton naik ke pesawat yang paling besar. Dan mereka pun berangkat menuju bumi.

Di bumi hari Minggu pagi. Pandu dan teman-temannya yang lain bermain bola lagi di lapangan yang sama. Mereka tidak tahu bahwa 10 pesawat berbentuk oval telur sedang menuju mereka. Memasuki babak kedua ketika skor 2-1 untuk Pandu, Arif dan Setyo, tiba-tiba cahaya yang sangat terang menyinari kepala mereka. Keenam anak laki-laki itu berhenti bermain. Mereka menengadah melihat langit tapi sinar itu terlalu menyilaukan sehingga mereka tidak dapat melihat apa pun. Suara dengungan lembut terdengar dan angin bertiup kencang meniup rambut mereka. Tapi lama kelamaan mereka dapat melihat bayangan benda berbentuk telur yang sangat besar turun perlahan menjejak tanah mengelilingi mereka. Mereka terdiam dan berdiri menganga melihat benda-benda asing itu. Pandu mendekap bola sepaknya erat-erat di dada seakan bola itu tiang yang dapat ia pegangi agar tidak terjatuh. Rasanya mereka ingin lari tapi entah mengapa kaki mereka rasanya kaku dan hati mereka penasaran ingin tahu benda apa itu. Lalu telur raksasa itu membelah, bagian atasnya yang merupakan atap terbuka ke arah atas. Tampaklah di dalamnya benda-benda bulat sebesar bola basket berwarna-warni di dalam cekungan-cekungan berwarna putih seperti kain lembut. Bola-bola itu tiba-tiba melenting dan turun ke tanah. Kemudian mengelinding ke arah Pandu dan kawan-kawan. Yang paling depan bola berwarna perak terang diikuti bola kuning totol-totol ungu, si Aton, dan bola-bola berwarna hijau putih bercorak seperti telur puyuh, para prajurit. Pandu dan kawan-kawan ternganga antara terkejut dan terpesona. Setelah bola-bola itu berhenti, dua bola mata terbuka dan membelalak ke arah mereka. Pandu dan kawan-kawan terkejut bukan kepalang. Mereka merapat ketakutan, yang satu saling berlindung di belakang punggung yang lain. Tapi percuma saja. Puluhan prajurit bola sudah mengeliling mereka, tidak memberi celah untuk lari.

“Manusia bumi,” ujar bola perak, sang Ketua. Anak-anak itu berjengit mendengar bola itu mengeluarkan suara.

“Aku Ketua dari planet Labo, planet yang jauh dari bumi. Kami kemari untuk tujuan yang baik. Kami tidak ingin mencari masalah dengan kalian. Karena itu kami juga berharap kalian dapat bekerjasama dengan kami.” Anak-anak itu masih diam tak berbicara, lidah mereka kaku dan kerongkongan mereka kering. Dedy mulai mengerang ingin menangis.

“Kami kemari untuk menjemput saudara-saudara kami. Kami ingin membawa mereka ke planet Loba dan hidup bersama kami,” Ketua terdiam sesaat, matanya menatap Pandu tajam. Pandu menelengkan kepalanya ke arah teman-temannya, tapi mereka malah semakin bersembunyi di belakang punggung Pandu dan mencengkram kaosnya erat-erat.

“Kami mohon kalian serahkan saudara kami,” ujar Ketua lagi.

“Sa – saudara yang mana? Kami tidak mengenal saudara anda,” jawab Pandu dengan suara bergetar.

“Yang anda tahan itu,” kata Ketua lagi. Pandangan Pandu dan teman-temannya jatuh ke bola di dada Pandu.

“Kasihin aja, Du! Biar cepat pergi,” ujar Setyo dalam ketakutannya. Yang lainbergumam setuju. Pandu segera menuruti usul teman-temannya walau pun mereka masih tidak memahami maksud Ketua. Pandu membungkuk perlahan lalu menggelindingkan bola itu ke arah Ketua. Salah satu prajurit bola menggelinding mendekati bola sepak itu dan menyentuhnya perlahan. Tapi tentu saja bola itu diam saja. Prajurit itu menyentuhnya lebih keras, tapi bola sepak masih juga diam. Kali ini Ketua yang mendekatinya dan menyentuh bola sepak, tapi sama saja. Aton juga menyentuhnya, juga dua prajurit yang lain.

“Ada apa dengan dia? Mengapa dia diam saja?” tanya Ketua pada Pandu.

“Di – dia kan cuma bola,” jawab Pandu.

“Bola?”

“Iya, bola. Dia cuma bola. Dia tidak punya mata dan mulut seperti kalian.”

“Tidak punya?” tanya Ketua lagi dengan suara yang semakin tinggi. Pandu menggeleng.

“Dia tidak hidup seperti kalian.” Gumaman-gumanan lalu ramai terdengar. Ada yang marah, ada yang tidak percaya, ada yang terkejut. Pandu memberanikan diri mendekati mereka. Dia berjongkok di dekat Ketua dan meyentuh bola itu perlahan,

“Ini bola yang terbuat dari kulit yang dijahit kemudian di beri warna,” pandu menunjukkan garis benang yang saling melintang dan seutas benang yang sudah mencuat keluar.

“Jadi, ini bukan bangsa kami?” Pandu menggeleng lagi. Tiba-tiba Ketua tertawa terbahak-bahak, lalu Aton juga tertawa dan disusul lagi oleh prajurit-prajurit bola. Mereka semua tertawa tergelak-gelak. Pandu juga tertawa kecil dan teman-temannya nyengir ragu-ragu.

“Maafkan kami. Kami membuat telah membuat kesalahan. Kami kira kalian bangsa manusia sangat jahat karena tega mempermainkan saudara kami dengan menendang, memukul, meninju dan menyundul benda-benda bulat ini,” ujar Ketua masih sambil tertawa kecil. Matanya berair saking gelinya. Pandu lalu menceritakan apa yang baru saja mereka lakukan dengan bola itu. Dia juga bercerita kalau bola di bumi sangat banyak jenisnya untuk berbagai olah raga. Dan semua jenis olah raga itu adalah permainan yang sangat mengasyikkan.

“Kalau begitu kami ingn menonton permainan kalian,” ujar sang Ketua. Pandu dan teman-temannya pun lalu mempertunjukkan permainan bola mereka di hadapan para bangsa bola. Mereka berkumpul di salah satu sudut lapangan dan bersorak sorai melihat pertandingan itu.

“Wah, permainan kalian sangat menarik. Kami menyukainya. Tapi sayang kami harus kembali sekarang. Kami senang mengetahui bahwa ternyata perkiraan kami salah. Kami mohon maaf atas kesalahpahaman ini,” ujar Ketua.

“Tidak apa-apa,” jawab Pandu, “Kami juga senang bertemu dengan kalian. Dan mungkin lebih baik kalian berhati-hati kalau datang ke bumi lagi. Jangan-jangan kalau ada yang melihat kalian dia akan menendang kalian.” Mereka tertawa kembali.

“Bawalah ini,” ujar pandu sambil menyorongkan bola sepaknya, “Sebagai kenang-kenangan.” Ketua sangat senang menerima bola itu. Salah satu prajuritnya menggiring bola sepak itu dengan tubuhnya sendiri dan menaikkannya ke pesawat. Mereka semua lalu kembali ke atas pesawat. Sesaat Ketua tersenyum pada Pandu dan teman-temannya lalu atap pesawat menutup perlahan dan mulai berdengung kembali. Sinar-sinarnya tepancar dan telur-telur besar itu melayang meninggalkan Pandu dan teman-temannya.

-2005-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar