Rabu, 05 Mei 2010

BARBEKYU DI WAJAH KAMI




Setiap bulan ramadhan seperti sekarang ada hal-hal tertentu yang selalu kutunggu-tunggu. Dan pastinya ditunggu juga oleh teman-temanku. Berkeliling kampung sambil memukul kentongan dan galon aqua ketika waktu sahur tiba adalah salah satunya. Bayangkan, kapan lagi mengganggu orang dengan suara super berisik di tengah malam tanpa dimarahi oleh orang lain. Tidak perlu takut dijewer apalagi sekedar dapat desisan ibu, “Ssst!” sambil melotot. Bahkan kegiatan seperti ini mendapat pujian dari Pak Ustadz.

“Membangunkan orang di waktu sahur adalah salah satu bentuk ibadah. Jadi kalau kamu mau berkorban dengan bangun lebih awal dari orang lain, lalu berjalan keliling kampung, berarti kamu selangkah lagi menuju kesalihan,” begitu katanya.

Selain itu, ada berburu kolak dan gorengan waktu berbuka. Biasanya di sore hari, ibu menyelipkan beberapa lembar ribuan di tanganku. Lalu aku akan bersepeda bersama Tikno, sahabatku, menuju tempat penjualan penganan berbuka. Dan bebas memilih apa saja yang ada di sana. Atau kalau hari libur ayah akan memboncengku dan adikku naik sepeda motor. Sesudah membeli makanan berbuka, kami akan berjalan-jalan menghabiskan waktu. Dan itu adalah waktu favoritku.

Satu lagi yang kusuka adalah acara barbekyu dengan teman-teman di masjid. Bakar-bakar pake arang. Bedanya yang kami bakar bukan daging, melainkan corn barbekyu alias jagung bakar. Dan ini selalu kami lakukan di malam pertama liburan sekolah menjelang lebaran. Seperti perayaan kecil-kecilan atas liburan esok hari dan lebaran yang akan datang.

Dan bagian yang paling dihindari oleh semua adalah membereskan sisa-sisanya. Biasanya begitu kami selesai menyantap semua jagung, seperti tupai-tupai sirkus kelaparan, kami lari menyelamatkan diri masing-masing. Yang tertinggal terakhir adalah yang ketimpa sial. Dia harus membersihkan sisa-sisa arang dan abu, menyapunya, bahkan mengepel lantai teras masjid yang terkena jelaga. Itu seperti kesepakatan tidak tertulis di antara kami.

Dan kali ini akulah si sial itu. Gara-gara keserakahanku memilih jagung yang paling besar di awal acara barbekyu kami. Padahal jagung paling besar artinya paling lama juga matangnya. Dan Tikno sedari awal sudah berencana menjerumuskan aku dalam kesialan. Dia membakar jagung pilihanku paling akhir. Walhasil aku harus menunggu lebih lama dari teman-teman yang lain. Dan ketika mereka hampir habis menyantap jagungnya, aku baru saja mulai. Dan tinggallah aku sendiri di sini sambil berkelut dengan jagung super jumboku. Rasanya setiap kali digigit, butir-butir bijinya akan langsung tumbuh lagi. Lama sekali habisnya. Dan Pak Ustadz sudah melotot dari dalam masjid.

Butuh waktu yang cukup lama membereskan ini semua. Sementara teman-temanku sudah mulai tidur daritadi, aku baru saja menuntaskan tugasku. Diam-diam kuselipkan sepotong arang sisa di lipatan sarungku. Lalu menyeringai nakal sambil memperhatikan Tikno yang sudah terlelap di bagian tepi masjid. Aku akan membalas perbuatan Tikno padaku.

Teman-temanku sudah terlelap, bergelimpangan di pinggiran masjid seperti ikan-ikan asin yang dijemur di pinggir pantai. Hoaam! Aku menguap dan mencari posisi yang nyaman di samping Tikno. Tapi sebelumnya, aku tak akan bisa tidur kalau belum melakukan niatku. Aku celingak celinguk ke kiri kanan, memperhatikan teman-temanku satu per satu. Seperti maling yang mau masuk ke rumah sasarannya. Oke, mereka sudah tidur. Lalu kulukis wajah Tikno dengan arang yang kuambil tadi. Lingkaran di sekeliling matanya, lingkaran di sekeliling mulutnya, lalu garis-garis semrawut di pipi dan dahinya. Kututup mulutku agar tidak tertawa. Rasain kamu! Bangun tidur nanti jadi lenong. Batinku dalam hati. Lalu kurebahkan tubuhku. Rasanya aku akan tidur nyenyak sekali malam ini. Seperti tidurnya prajurit yang pulang dari perang membawa kemenangan.

Bret!

”Ayo bangun! Bangun!”

Tergopoh-gopoh aku bangun, seperti mesin yang otomatis dinyalakan. Pak Ustadz sudah membangunkan kami dengan sabetan sarungnya. Dan tidak ada alasan untuk malas-malasan, kalau tidak mau disiram air sama Pak Ustadz sambil ditertawakan yang lain. Dan kurasakan Tikno juga mulai terbangun di sisiku. Teman-teman yang lain juga mulai mengucek mata dan menguap. Lalu seperti dikomando, ledakan tawa mulai terdengar. Pertama satu orang, dan ini memancing yang lain juga ikut tertawa. Mereka semua tertawa sambil menunjuk Tikno yang duduk di sebelahku. Aku tahu apa alasannya, maka aku juga ikut tertawa. Sisasatku berhasil, tujuan tercapai. Ucapku dalam hati penuh kemenangan. Aku ikut tertawa bersama mereka sambil menunjuk wajah Tikno. Tapi lho kok... Tikno juga tertawa sambil menunjuk wajahku? Lalu kusadari teman-teman yang lain tidak hanya menunjuk Tikno, tapi juga menunjuk padaku? Aku terdiam, Tikno juga terdiam. Kami seperti dua ekor topeng monyet yang ditunjuk-tunjuk sambil ditertawakan oleh penonton. Sontak aku lari ke belakang, ke kamar mandi pria. Dan Tikno juga mengikutiku. Aku langsung menuju cermin dan Tikno juga menghambur di sebelahku. Dan itulah kami berdua. Dua wajah penuh coreng moreng hitam kelihatan di cermin.

“Kamu ya?” tuduhku pada Tikno.

“Enak aja, kamu yang gambari aku kan?” balasnya sambil menunjuk wajahnya sendiri. Dan sesudahnya kami tidak bicara lagi, melainkan saling menarik kepala dan berusaha menjatuhkan. Kami bergumul di lantai kamar mandi. Sarungku terangkat ke kepala dan menutupi mataku, dan sarung Tikno membelit kakinya membuat tendangannya tidak terlalu berhasil. Aku tidak tahu bagaimana aku dan Tikno waktu itu, yang jelas teman-teman yang lain sudah mendekat dan mengelilingi kami. Ada yang berteriak menghentikan, ada yang tertawa terpingkal-pingkal. Sama sekali bukan perkelahian yang keren seperti di film-film. Gara-gara sarung yang kami kenakan, mungkin waktu itu kami lebih mirip dua dakocan yang terbelit tali dan saling bergumul untuk melepaskan diri.

Sampai akhirnya Pak Ustadz yang datang sendiri dan melerai kami dibantu beberapa teman yang lain. Sesudah itu siapa pun bisa mengira apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku dan Tikno berdiri di salah satu sudut masjid sambil menunduk malu. Pak Ustadz memarahi kami. Aku tidak bisa menangkap dengan jelas apa yang diucapkan Pak Ustadz. Yang berhasil kuingat hanya memalukan, tidak boleh berkelahi, anak soleh, dihukum, dan salaman. Akhirnya aku dan Tikno bersalaman. Sekilas kupandang wajahnya. Goresan arang tadi sudah tidak jelas lagi, malahan seluruh wajahnya menghitam. Dan mungkin aku juga begitu. Aku ingin tertawa, tapi aku masih merasa kesal dan gengsi juga.

Masalahnya lagi adalah tidak ada persediaan sabun di masjid. Yang ada di sini cuma cairan pembersih lantai. Walhasil kami terpaksa pulang ke rumah dengan wajah hitam seperti ini. Maka kututup wajahku dengan sarung, Tikno juga melakukan hal yang sama. Dan aku pun beranjak pulang. Meski pun rumahku searah dengannya dan setiap hari kami berangkat dan pulang bersama, tapi tidak kali ini. Tikno berjalan lebih cepat dari aku dan langsung berbelok begitu sampai di rumahnya.

Sesampainya di rumah, kuketuk pintu. Dan ibu yang membuka pintu. Ibu menatapku heran, tapi tidak bertanya apa-apa. Untung saja sarungku berhasil menyembunyikan wajahku. Tapi tak perlu menunggu lama, besok ibu pasti akan tahu apa yang terjadi malam ini. aku langsung menghambur ke kamar mandi dan mencuci mukaku. Lalu duduk di meja makan sambil menidurkan kepalaku di mejanya. Sebenarnya aku tidak tidur, aku masih bisa mendengar sayup-sayup suara pukulan galon aqua dan teriakan teman-teman di kejauhan. Aku hanya tidak mau ditanya macam-macam saja. Dan aku enggan ikut berkeliling, malam ini aku absen dulu.

Setelah sholat subuh aku hendak tidur lagi. Kalau hari libur begini biasanya aku pergi bersepeda dengan Tikno. Lalu siangnya baru aku tidur sampai dhuhur. Tapi kali ini, kamu pasti sudah tahu alasannya. Lagipula kupikir Tikno pasti juga sama malasnya menemuiku. Tapi kok mataku tidak mengantuk ya? Sepertinya rasa bersalah dan rindu pada Tikno menyerap semua rasa kantukku. Maka aku beranjak saja ke garasi. Kuraih sepeda yang terparkir di samping sepeda motor ayah. Dan kukayuh pedalnya perlahan sambil agak malas-malasan. Aku memilih jalan yang berlawanan dengan rumah Tikno. Jadi aku bisa menikmati pagi ini sendiri saja dulu.

Baru seratus meter dari rumahku aku sudah merasa kesepian. Rasanya tidak enak juga bersepeda sendiri seperti ini. Apalagi pagi-pagi begini jalanan masih sepi. Kebanyakan orang tidur lagi setelah subuh. Maka aku pun berbalik arah dan memilih untuk pulang saja. Tapi begitu aku berbalik aku melihat wajah yang sudah sangat kukenal, lengkap dengan sepeda yang juga sudah sangat kuhapal. Tikno. Dia berhenti dan menatapku, aku juga menatapnya. Seperti dua koboy di film yang siap saling menembak pada jarak dua puluh langkah. Lalu tanpa kusangka Tikno mendekatiku sambil tersenyum, meski pun senyumnya agak dipaksakan.

“Ke danau yuk!” ajaknya padaku. Aku pun tersenyum. Tanpa perlu dijawab, kami berdua mengayuh sepeda kami dan berjalan menuju sungai. Dalam hati aku berpikir, ternyata tidak enak juga rasanya kalau dikerjain orang lain. Dan ternyata Tikno lebih kesatria dan berhati besar daripada aku.

-2009-

PEMBEBASAN SEEKOR RAKUN




Tidak seperi biasanya, begitu imam sholat subuh mengakhiri sholat dengan salam ke kanan dan kiri, Adi dan Fabian segera melesat keluar masjid. Mereka tidak berdzikir dan berdoa terlebih dahulu seperti yang biasa mereka lakukan.

Adi dan Fabian, dengan berjalan perlahan-lahan, mengambil sepeda mereka yang ditambatkan di pohon belimbing di halaman masjid. Tanpa berbicara, hanya dengan isyarat mata, mereka mengayuh sepeda menjauhi masjid.

“Kamu bawa kan?” tanya Adi pada Fabian. Fabian hanya mengangguk seraya menunjuk ke kantung plastik yang ia gantung di sepedanya. Lalu mereka jalan lagi tanpa berbicara. Tampak kedua wajah anak itu tegang, suasana hening, yang terdengar hanya deritan sepeda dan hembusan napas mereka.

Setelah dua kali belok, mereka berhenti di depan sebuah rumah. Adi dan Fabian menengok ke kanan kiri, sepi! Tidak ada orang lewat, dan langit masih biru gelap. Lampu teras rumah itu masih menyala, sementara ruang tamunya gelap, menandakan penghuninya belum bangun. Adi dan Fabian merebahkan sepedanya ke tanah dan mengendap-endap masuk ke halaman rumah itu. Rumah itu memang tidak berpagar, sehingga tidak sulit bagi Adi dan Fabian untuk menjalankan misi mereka.

Mereka mendekati sebuah kandang di bawah pohon jambu. Adi mengangguk pada Fabian, lalu Fabian mengeluarkan palu dari dalam kantung plastik yang ia bawa tadi. Ia mengetukkan palu itu ke kunci gembok di pintu kandang. Penghuni kandang itu terbangun mendengar suara ketukan palu Fabian. Ia adalah seekor rakun.

Rakun berwarna hitam bergaris kuning. Sudah beberapa minggu terakhir Adi dan Fabian memperhatikannya. Dulu mereka tidak pernah menyadari keberadaannya. Padahal setiap hari sepulang sekolah mereka melewati rumah itu. Hingga suatu saat Adi melihat seperti ada seekor kucing tidur melingkar di dalam kandang. Setelah didekati, Adi baru tahu bahwa itu bukan kucing, melainkan seekor rakun yang malang.

Kondisi rakun itu sangat memprihatinkan. Kandangnya gelap dan kotor, dengan sisa-sisa kotoran yang tidak pernah dibersihkan oleh sang pemilik, kandang sempit yang terbuat dari bambu dan kawat itu berada di bawah pohon jambu, sehingga sinar matahari tidak pernah menembus ke dalamnya. Tidak ada makanan, yang ada hanya sepotong tulang sapi yang sudah kering dan bonggol pisang yang berwarna hitam. Tempat minumnya pun kering dan kotor. Di bawah kandang ada setumpuk kaleng-kaleng bekas.

Rakun itu terbangun ketika pertama kali Adi dan Fabian mendekatinya. Dia sendirian, tanpa teman. Rakun itu berjalan perlahan mendekati mereka dan mengeluarkan moncongnya ke sela-sela kawat, seperti minta makan. Rakun itu terlihat tidak bersemangat dan kesepian. Pasti pemiliknya tidak pernah mengajak rakun itu berbicara atau bermain, dia ditinggalkan begitu saja di dalam kandangnya yang bau dan lembab dengan makanan seadanya.

Adi jadi teringat pada kucingnya. Dia sering mengajak kucingnya bermain dan berbicara, walau pun Adi tidak yakin kucing itu mengerti apa yang Adi ucapkan. Tapi menurut Adi kucing itu pasti senang diajak berbicara oleh pemiliknya. Adi memberi makan kucingnya secara teratur dan dia membebaskan kucingnya pergi ke mana pun untuk berinteraksi dengan kucing-kucing yang lain.

Adi memang tidak suka mengurung binatang. Bagi Adi binatang tidak suka dikurung, sama seperti manusia yang tidak suka dipenjara. Itu mengapa Adi tidak mau memelihara binatang yang harus dimasukkan ke dalam kandang, seperti burung atau lainnya. Dia pernah memelihara burung merpati, tapi dia menyediakan rumah merpati yang terbuka agar merpati itu bebas terbang kapan pun dan ke mana pun. Dia juga tidak suka melihat orang yang memelihara seekor monyet kemudian mengikat monyet itu dengan rantai. Adi membayangkan betapa sedihnya monyet itu, sendiri tanpa teman dan tidak bisa pergi ke mana-mana. Dia hanya bisa bergelantungan di tempatnya yang itu-itu saja. Bisa-bisa monyet itu jadi gila, pikir Adi.

Karenanya, ketika melihat rakun itu untuk pertama kali, Adi langsung merasa kasihan. Setiap hari di sekolah Adi membeli sepotong melon dan, tanpa sepengetahuan pemiliknya, ia berikan pada rakun itu. Fabian pun terkadang membawa sesuatu untuk rakun itu. Dan setelah dua minggu mereka jadi merasa sayang padanya. Hingga akhirnya mereka berencana untuk melepas rakun itu.

Dua hari sebelumnya Adi dan Fabian mencari waktu yang paling tepat. Mereka pun menyimpulkan bahwa setelah sholat subuh adalah waktu yang paling tepat. Karena pemilik rumah itu sepertinya selalu bangun siang. Bahkan ketika Adi dan Fabian berangkat sekolah pun pemilik rumah belum bangun.

Setelah ketukan ketiga yang keras, gembok itu berhasil terbuka. Adi mengeluarkan karung plastik bekas tempat beras dari balik jaketnya. Ia mempersiapkan karung itu dan pelan-perlan membuka pintu kandang. Si rakun mulai panik, dia berjalan menuju pojok kandang menjauhi Adi. Adi segera masuk ke kandang hingga hampir separuh badannya. Kotor dan bau tidak dia hiraukan. Rakun itu semakin panik ketika Adi menyodorkan karung ke arahnya. Ia menguik dan meggeram, mengusir tangan Adi dengan mengayunkan cakarnya. Dengan sigap Adi segera menyelubungkan karung ke kepala rakun. Rakun itu meronta-ronta di dalam karung, tapi Adi lebih gesit. Ia segera menarik karung dengan rakun di dalamnya. Fabian yang bertugas mengawasi sekeliling meloonjak-lonjak panik. Begitu Adi berhasil mengeluarkan karung itu, mereka segera mengikatnya dengan tali. Rakun itu terus meronta-ronta, ia menguik keras dan mencakar-cakar karung.

Cepat-cepat Adi dan Fabian meraih sepedanya dan melesat dari situ. Mereka mengayuh sepedanya secepat mungkin tanpa satu pun kata keluar dari mulut mereka. Melewati jalan kecil, akhirnya mereka sampai di hutan kampus Universitas Indonesia, kampus dekat rumah mereka. Hutan di kampus itu memang masih sangat lebat. Bahkan banyak daerah yang sepi di malam hari sehingga tidak ada yang berani lewat situ.

Adi dan Fabian mulai melambatkan sepeda mereka. Karung berisi rakun yang digantung di sepeda Adi masih bergerak-gerak, tapi sudah tidak sehebat tadi. Adi dan Fabian melihat ke kanan kiri, berusaha mencari tempat yang paling cocok. Setelah berjalan agak jauh, Adi berhenti. Fabian mengikutinya. Dalam hening mereka segera membuka ikatan karung setelah sesaat memandang lekat ke arah hutan yang gelap. Tak perlu menunggu lama rakun itu merayap keluar dari karung yang sudah terlepas ikatannya. Rakun itu segera melesat pergi masuk ke dalam hutan, tanpa menengok ke Adi dan Fabian. Adi dan Fabian menarik napas lega. Misi telah terselesaikan. Mula-mula Fabian tertawa kecil, lalu Adi juga tertawa. Semakin lama tawa mereka semakin keras dan akhirnya mereka berdua melonjak-lonjak kegirangan sambil mengacungkan kepalan tangan ke udara.

“Kita berhasil,” ujar Fabian sambil mengayuh sepedanya perlahan. Langit sudah memerah, tanda sebentar lagi matahari akan terbit.

“Aku takut banget tadi,” ujar Fabian lagi.

“Aku juga,” sahut Adi. “Aku takut setengah mati waktu nangkap rakun tadi. Aku takut dicakar, selain itu dia ribut banget. Bisa-bisa pemiliknya bangun.” Mereka tertawa-tawa dan saling mencurahkan perasaan masing-masing di sepanjang perjalanan itu.

“Kalau aku sudah besar nanti…,” kata Adi. “Aku akan memperjuangkan undang-undang perlindungan binatang. Seperti di Amerika.”

“Apa mungkin?” tanya Fabian agak ragu.

“Kenapa nggak mungkin?” jawab Adi. Fabian hanya tersenyum sambil mengangkat bahu. Mereka berdua pulang ke rumah masing-masing untuk bersiap berangkat ke sekolah. Rencananya besok mereka akan datang lagi ke hutan tadi, siapa tahu mereka bisa bertemu dengan si rakun. Mumpung besok hari Minggu.

Malamnya Adi menonton TV di rumahnya. Karena malam itu malam minggu dia bebas bermain. Ayah dan Ibunya sedang mengobrol sambil duduk di sofa di belakang Adi. Tapi Adi merasa tidak enak mendengar percakapan mereka.

Ayah dan Ibu Adi sedang membicarakan tentang tetangga mereka yang baru saja kehilangan binatang peliharaannya, seekor rakun. Tetangganya itu bilang seseorang telah merusak kandang rakunnya tadi pagi. Adi merasa sangat tidak nyaman, karena pencuri rakun yang saat ini sedang dibicarakan ayah dan ibunya, juga warga kampung, adalah dirinya. Ia segera beranjak dari ruang keluarga dan minta ijin untuk bermain ke rumah Fabian.

Setelah bertemu dengan Fabian, Adi mengungkapkan perasaannya. Betapa saat ini sebagian hatinya merasa bersalah. Dan ternyata Fabian juga merasakan hal yang sama.

“Kayaknya kita harus bertanggung jawab,” ujar Fabian. “Soalnya kita sudah mencuri rakun itu, walau pun maksud kita baik.”

“Iya sih. Tapi kita harus gimana? Aku nggak berani kalau harus mengaku sama pemiliknya,” jawab Adi.

“Aku juga nggak mau. Nanti kita dikenal sebagai pencuri,” Fabian setuju.

“Kita ganti saja dengan uang. Aku punya sedikit tabungan di celengan.”

“Tapi berapa harga seekor rakun? Aku nggak tahu.”

“Aku juga sebenarnya nggak tahu. Tapi kupikir mungkin 30.000 cukup. Gimana menurut kamu?”

“Mm, gimana kalau 40.000? kita bagi dua, aku 20 kamu 20.” Adi berpikir sejenak, kemudian dia mengangguk. Mereka berdua tersenyum seraya berjabatan tangan.

“Waktu yang sama?” tanya Adi.

“Waktu yang sama,” jawab Fabian.

Dan memang di waktu yang sama, setelah sholat subuh keesokan harinya, Adi dan Fabian kembali mendorong sepeda mereka keluar dari halaman masjid. Tanpa suara, adi mengeluarkan selembar amplop. Ia buka amplop yang tidak dilem itu dan menunjukkan isinya pada Fabian. Selembar uang 20.000. Fabian juga mengeluarkan uang dan selembar kertas putih dari saku celananya, kemudian menunjukkan tulisan di kertas itu pada Adi.

“Kami minta maaf atas kesalahan kami mengambil binatang peliharaan bapak tanpa ijin. Karena itu kami ingin menggantinya dengan uang sekedarnya. Semoga ini cukup untuk mengganti rakun Bapak. Terima kasih.”

Adi melipat lagi kertas itu dan, masih tanpa suara, memasukkannya ke amplop bersama 2 lembar 20.000an. Suasana di rumah itu masih seperti biasa. Perlahan adi mendekati pintu, sementara Fabian menunggu di depan untuk berjaga-jaga. Kemudian Adi menyelipkan amplop itu di bawah pintu, lalu segera berlari dan memacu sepedanya ke arah rumah.

Mereka berdua tertawa-tawa lega. Kini tanpa ragu mereka memacu sepedanya menuju hutan kampus Universitas Indonesia. Sekedar untuk berjalan-jalan di Minggu pagi, juga untuk menjenguk si rakun. Siapa tahu mereka beruntung dapat bertemu dengannya.

-2008-

SAHABAT PENA




“Suci, lihat apa yang kubawa,” dengan mata berbinar Dewi membuka tasnya begitu ia sampai di kelas. Suci menunggu dengan tidak sabar dan hati berdebar. Sepertinya Dewi membawa sesuatu yang sangat hebat hari itu.

“Taraa!” Dewi menunjukkan sebuah amplop berwarna biru muda bergambar Putri Jasmine di depannya. Wajah Suci berubah seketika. Ia sudah bisa menyangka apa itu.

“Aku dapat teman baru lagi, dan hebatnya lagi yang ini dari Papua. Namanya Loka, Arnantea Loka. Namanya bagus ya?”ujarnya sambil menyerahkan surat itu pada Suci.

“Wah, kemarin aku sampai teriak-teriak deh. Coba kamu baca. Anaknya baik banget. Cuma ada beberapa kalimat yang perlu agak lama aku paham, soalnya kan pake dialeg papua. Tapi setelah aku baca berulang kali, baru aku ngerti apa maksudnya,” Dewi bercerita penuh semangat, ia sama sekali tidak menyadari perubahan wajah Suci.

Pikiran Suci menerawang sendiri, dia hampir tidak mendengarkan cerita Dewi juga tidak memperhatikan benar surat yang sedang ia baca. Di hatinya hanya berkecamuk berbagai macam pikiran. Untung saja bel segera berbunyi, jadi dia bisa menghindar dari cerita Dewi dan surat itu. Tapi selama pelajaran tetap saja ia tidak bisa berkonsentrasi.

Memang sejak 4 bulan yang lalu, sejak Ibu Guru membagikan sebuah majalah gratis tentang korespondensi, Dewi dan Suci, dua bersahabat sejak kelas 2 SD hingga sekarang kelas 5 SD, jadi punya hobi baru, yaitu korespondensi. Mereka mencoba mengirim surat pada siapa saja alamat yang mereka temukan di berbagai media massa. Mulai dari majalah korespondensi yang mereka dapatkan dari Ibu guru, majalah anak-anak, koran untuk anak-anak, hingga artis cilik.

Dan satu bulan kemudian Dewi mulai mendapat balasan. Pertama dari Purnama, anak Riau. Kemudian dari Asep, anak Cianjur, dan sekarang yang terbaru Loka dari Papua. Bahkan dengan Purnama dan Asep sudah beberapa kali Dewi saling berbalas surat. Sementara Suci, tidak satu pun suratnya dibalas, tidak satu pun sahabat pena ia dapatkan. Ia tak habis pikir, apa yang salah dengan surat-suratnya. Apakah dia tidak bisa menulis surat sebaik Dewi? Apakah tulisannya terlalu jelek sehingga yang mendapat suratnya malas untuk membalas?

Padahal dia sudah memenuhi semua aturan menulis surat yang baik, berbicara dalam bahasa yang sopan, tidak menyinggung, memperkenalkan diri dengan biodata secukupnya, dan menyertakan sebuah foto. Tapi mengapa ia tidak seberuntung Dewi? Diam-diam Suci jadi sedih, dia juga mulai iri pada Dewi. Suci memandang Dewi sejenak. Ya, Dewi memang lebih cantik dari dirinya, pantas saja mereka mau membalas suratnya. Lagi pula Dewi anak yang menyenangkan, dia juga pandai melucu. Pasti dia bisa membuat sebuah surat yang dapat membuat pembacanya terpingkal-pingkal. Seharian itu Suci jadi pemurung, kepalanya jadi sakit dan pusing.

“Suci, kamu sakit? Kamu pucat,” ujar Dewi dan menyentuh kening Suci.

“Aku pusing,” jawab Suci. Dewi mengacungkan jarinya dan berkata pada Ibu Guru bahwa Suci sakit. Ibu guru memerintahkan Dewi untuk mengantar Suci ke UKS. Mereka berdua pergi ke UKS dan Suci berbaring di situ.

“Kamu perlu apa? Kamu belum sarapan? Aku belikan makan ya?” tanya Dewi. Suci menggeleng perlahan.

“Aku mau istirahat saja, kamu kembali saja ke kelas, aku nggak apa-apa kok.”

“Maaf ya aku nggak bisa nemenin kamu.” Dewi beranjak kembali ke kelas. Suci termenung sendiri. Ia menatap langit-langit ruang UKS, pikirannya tetap menerawang. Tapi tiba-tiba dia mendapat ide. Dan sepertinya itu ide yang cukup bagus.

Beberapa hari kemudian di sekolah Suci menunjukkan sepucuk surat pada Dewi.

“Dewi, lihat, aku dapat surat.”

“Wah, lihat donk.” Dewi sangat senang mendengarnya. Mereka lalu membaca surat itu bersama. Dari seorang anak bernama Novia, dari Samarinda. Novia anak yang menyenangkan, dia senang bermain basket bersama ayahnya, dan dia juga sering bermain ke pantai bersama keluarganya. Sayangnya tidak ada foto Novia di situ, tapi Novia berjanji akan memberi foto suatu saat nanti. Suci senang sekali. Dia berkata betapa terkejutnya ia ketika kemarin pak pos datang ke rumahnya dan menyerahkan surat itu untuknya. Dewi ikut berbahagia untuk Suci. Dan hari itu mereka merasa sangat bersemangat.

Dua hari kemudian Suci kembali menunjukkan sepucuk surat dari Candra di Cirebon. Dan tiga hari kemudian datang lagi surat dari Eka di Padang. Setiap kali datang surat, Dewi selalu diijinkan membacanya. Seperti Dewi mengijinkan Suci membaca surat dari sahabat penanya. Ketika istirahat Dewi meminjam lagi surat dari Eka itu. Dia belum selesai membacanya.

“Boleh. Tapi aku ke perpustakaan ya, aku mau pinjam buku dongeng untuk adikku. Aku sudah janji sama dia,” ujar Suci.

“Oke,” jawab Dewi. Maka tinggallah Dewi sendiri di bangku mereka. Dewi membaca surat Eka itu. Di surat itu Eka bercerita bahwa ia dan keluarganya punya hobi berbelanja kemudian memasak bersama, bahkan Ayahnya pun senang memasak. Tiba-tiba Dewi merasa ada sesuatu yang janggal. Tapi dia tidak tahu apa itu. Kini Dewi yang tidak bisa berkonsentrasi saat pelajaran.

Keesokan harinya saat istirahat Dewi menolak ajakan Suci untuk pergi ke kantin. Maka Suci meninggalkannya sendiri di kelas. Ketika Suci pergi diam-diam Dewi membongkar tas Suci. Sesuai harapannya Suci masih membawa tiga surat dari sahabat penanya itu di tasnya. Dewi membuka semua surat itu dan menjajarkannya kemudian memperhatikan satu per satu.

Sesuai dugaannya ada yang mencurigakan dari ketiga surat itu. Ketiganya menggunakan ballpoint berwarna biru, sepertinya dengan tinta yang sama. Ketika Dewi membaca lagi sekilas ia merasa bahwa gaya bahasa dalam surat itu pun hampir sama. Padahal surat-surat dari tiga sahabat penanya selalu memiliki kekhasan masing-masing. Dan yang paling mencurigakan tulisannya pun mirip, bahkan mirip dengan tulisan tangan Suci sendiri. Perasaan Dewi jadi tidak enak. Dia takut membayangkan apa yang ia pikirkan.

Segera ia masukkan kembali surat-surat itu ke tas Suci dan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi hatinya semakin gelisah. Ia tidak ingin berburuk sangka pada Suci, tapi dia juga tidak bisa diam saja. Ia harus bertanya pada Suci daripada terus-terusan berpikir yang tidak-tidak, apalagi kalau persangkaannya benar maka ia harus mengingatkan Suci. Tapi ia takut Suci marah dan menuduhnya sebagai teman yang tidak mempercayai sahabatnya. Dewi bingung harus bagaimana.

Ketika makan siang di rumah Dewi hanya memandang nasi di piringnya. Mamanya heran melihat sikap Dewi yang tidak seperti biasanya.

“Kenapa sih Dewi? Dari kemarin kamu kelihatan murung, bingung, kamu mau cerita sesuatu sama Mama?” Dewi terdiam sesaat kemudian menarik napas panjang.

“Ma, boleh nggak sih kita buruk sangka sama orang?”

“Ya nggak boleh dong sayang.”

“Tapi gimana kalau ternyata persangkaan kita itu benar? Gimana kalau ternyata orang itu memang bersalah seperti perkiraan kita?”

“Dewi, kadang-kadang kita memang nggak bisa menghindar untuk curiga sama seseorang. Tapi kita nggak bisa terus-terusan curiga tanpa klarifikasi.”

“Klarifikasi itu apa, Ma?”

“Klarifikasi itu minta penjelasan pada seseorang, betul atau tidak persangkaan kita itu. Soalnya kalau kita nggak minta klarifikasi bisa-bisa kita bikin kesimpulan sendiri yang akan memfitnah orang itu.”

“Jadi kalau kita curiga seseorang berbuat kesalahan, kita tanya langsung sama orang itu, gitu?”

“Betul sekali, anak Mama pintar.” Dewi terdiam lagi, ia merenungkan perkataan Mama barusan.

Dewi memandang Mamanya. Dia merasa Mama sangat bijaksana. Mama tidak ingin mencampuri urusan anaknya dengan menanyakan masalah pribadinya, tapi Mama selalu bisa memberikan jalan keluar untuk setiap permasalahannya. Dewi memeluk Mamanya,

“Makasih ya Ma.”

“Ya sudah, sekarang kamu makan ya. Nanti keburu perutmu nyanyi dangdut.”

Seperginya Mama, Dewi sudah tahu apa yang harus ia lakukan.

Sore itu Dewi mengayuh sepedanya ke arah rumah Suci. Ia ingin menanyakan langsung pada Suci tentang surat-suratnya itu. Namun ternyata Suci tidak ada di rumah, ia sedang pergi berenang dengan ayahnya. Dewi hanya bertemu dengan Ibu Suci. Ibu Suci mempersilakannya masuk dan menyuguhkan segelas tes manis dan pisang goreng. Dewi duduk di ruang tamu sambil menunggu Suci pulang.

“Tunggu saja dulu, Wi. Mungkin juga sebentar lagi Suci pulang. Ayo diminum tehnya!”

“Makasih, Tante,” jawab Dewi.

Namun tidak lama kemudian datang seorang tamu. Ibu Suci meminta Dewi untuk menunggu Suci di kamarnya saja. Dewi pun beranjak ke kamar Suci di lantai dua.

Dewi masuk ke kamar Suci, kamarnya rapi dan bersih. Kasurnya ditutup sprei yang cantik dan wangi. Buku dan tasnya tersusun rapi di atas meja, beberapa spidol, ballpoint, dan pensil juga tersimpan di kaleng cantik di situ. Sebuah tempat sampah mungil berwarna biru muda terletak di ujung meja, sehingga memudahkan Suci untuk membuang sampah. Dewi duduk di kursi belajar Suci, ia memandang kamar itu berkeliling. Ini bukan pertama kalinya ia kemari, namun entah mengapa nalurinya memerintahkan ia untuk memperhatikan setiap detil kamar itu.

Tiba-tiba pandangannya tertumbuk ke dalam tempat sampah. Dewi melihat beberapa remasan kertas di situ. Ia mengambilnya dan mengurai kertas itu sehingga ia bisa membaca tulisannya. Betapa terkejut hati Dewi. Ia kenal kalimat yang tertulis itu, kalimat-kalimat di surat Eka. Dengan tangan gemetar Dewi membuka kertas-kertas yang lain, ia menemukan hal yang sama. Surat Eka yang belum selesai dan tampak dicoret di beberapa bagian. Dewi langsung lemas, jantungnya berdetak cepat. Apa yang ia takutkan ternyata benar. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Suci sudah berdiri di situ.

“Hai Wi, Ibu bilang kamu di si...,” senyum manis di wajah Suci lenyap seketika begitu ia melihat apa yang ada di tangan Dewi.

“Kamu ngapain? Membongkar kamarku tanpa ijin?” Suci langsung meledak marah sambil merebut kertas di tangan Dewi.

“Aku yang seharusnya marah, kamu sudah bohong sama aku. Semua surat-surat itu bohong kan? Dari Novia, Candra, Eka, semua itu bohong. Betul kan? Semua itu khayalan kamu saja? Kamu tulis sendiri dan kamu kirim ke rumahmu dengan alamat palsu.”

“Iya memang, kalau benar kenapa? Kamu senang? Kamu sudah merasa menang dengan unggul dari aku, dapat banyak sahabat pena dan berhasil menangkap basah aku?”

“Siapa yang senang? Kamu pikir aku senang dibohongi? Apalagi yang membohongi aku sahabatku sendiri? Kukira selama ini kamu sahabat yang baik, ternyata kamu cuma seorang pembohong besar!”

Tiba-tiba Suci menangis, ia terduduk lemas di atas kasurnya dan menangis sesenggukan.

“Aku iri sama kamu, Dewi. kamu bisa dapat banyak sahabat pena, sedangkan aku nggak satupun. Setiap kali kamu bawa surat ke sekolah kamu selalu kalihatan bangga dan senang. Apalagi waktu kamu dapat surat dari Papua. Aku juga ingin ngerasa senang kayak kamu. Aku juga malu sama kamu, aku nggak dapat sahabat pena. Setiap hari aku nggak putus asa nungguin tukang pos datang, tapi nggak ada satu pun. Akhirnya aku nekat berbuat ini. Kamu kira aku senang ngelakukin ini? Aku selalu gelisah, soalnya aku takut ketahuan, juga takut dosa,” Suci menangis sesenggukan sambil menutup wajahnya denganbantal. “Maafin aku, Wi.” Dewi terharu menatap Suci. Ia tidak menyangka kalau ternyata selama ini Suci punya perasaan seperti itu. Ia memeluk Suci.

“Aku yang seharusnya minta maaf, Suci, aku yang salah. Selama ini aku nggak memperhatikan kamu, aku sama sekali nggak peduli dan nggak peka kalau sahabatku punya perasaan kayak gini. Maafin aku ya, aku sudah lancang bongkar-bongkar barang kamu tanpa ijin.”

“Aku malu sama kamu, Wi. Aku nggak bisa nulis surat sebaik kamu.”

“Nggak usah malu. sekarang aku paham. Lagipula siapa yang bilang kamu nggak bisa menulis surat dengan baik. Buktinya surat-surat yang kamu tulis itu semuanya sangat indah, walau pun itu surat palsu.” Suci tertegun mendengar kalimat Dewi. Suci merasa perbuatannya itu sangat konyol.

“Kalau kamu mau kamu bisa tulis surat untuk sahabat penaku dan kenalan sama mereka. Aku yakin mereka pasti juga mau kenalan sama kamu.”

“Makasih ya Dewi, kamu memang sahabatku yang paling baik.” Mereka berpelukan kembali.

“Oh iya, kamu ada perlu apa ke sini?” tanya Suci sambil mengusap matanya.

“Eh emm, cuma pingin main aja kok,” jawab Dewi terbata-bata.

Keesokan paginya Dewi melihat Suci berlari-lari menuju kelas sambil mengacungkan sesuatu di tangannya,

“Dewi! Dewi! Lihat ini!” Suci menyerahkan sepucuk surat dengan amplop coklat muda.

“Akhirnya aku punya sahabat pena.” Dewi membuka surat itu dan membacanya. Dari Iffan, di NTB. Dan kali ini Dewi percaya Suci tidak berbohong, karena ada sebuah foto di dalamnya. Dewi bahagia sekali, sebahagia Suci.

-jogja, 2003-

RAKSASA DARI GUNUNG GONU




Di tengah lautan Atlantik terdapatlah sebuah pulau kecil terpencil. Saking kecilnya sampai-sampai pulau ini tidak tergambar di peta dan tidak mempunyai nama yang resmi. Di pulau itu ada sebuah gunung yang sudah tidak bisa menyemburkan lahar lagi atau biasa disebut gunung yang sudah tidak aktif. Walau pun pulaunya tidak bernama, tapi gunung itu mempunyai nama. Penduduk yang tinggal di kaki gunung menyebutnya dengan gunung Gonu. Lahar yang dulu pernah keluar dari gunung Gonu membuat tanah di sekitar gunung Gonu subur dan para penduduk memanfaatkannya untuk bercocok tanam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Dari penghasilan sawah dan kebun serta keadaan alam yang indah tanpa polusi membuat penduduk gunung Gonu hidup damai dan sejahtera.

Tapi kedamaian itu tidak berlangsung lama. Karena sejak lima tahun yang lalu para penduduk dikejutkan oleh kemunculan raksasa buruk rupa dari sebuah gua lereng gunung Gonu. Banyak orang bilang raksasa buruk rupa itu dilahirkan dari perut gunung Gonu ketika gunung Gonu meletus untuk yang terakhir kalinya, enam tahun yang lalu. Karena itulah masyarakat menyebutnya ‘ Si Gonu’.

Waktu itu para penduduk sedang bekerja di ladang mereka. tiba-tiba tanah yang mereka pijak terasa bergetar dan terdengar bunyi berdebum dari jauh. suara berdebum itu mekin lama makin dekat, dan akhirnya masyarakat melihat manusia bertubuh besar sekali, tingginya setinggi rumah termegah di pulau itu dan tubuhnya gemuk tambun. Kulitnya hitam, rambutnya panjang dan wajahnya buruk.

“Ada raksasa...!” penduduk berlarian, cangkul dan bajak mereka tinggalkan di ladang. Anak-anak kecil yang sedang bermain digendong oleh orang tua masing-masing dan dibawa masuk ke rumah. Pintu dan jendela ditutup rapat, juga kandang binatang ternak mereka. Semuanya ketakutan dan bersembunyi di rumah masing-masing. Setelah raksasa itu kembali ke gunung dan dirasa aman, baru penduduk berani keluar satu persatu. Mereka segera berkumpul di rumah kepala suku dan membicarakan tentang kemunculan raksasa yang belum pernah mereka lihat sebelumnya itu.

“Hati-hati, raksasa itu wajahnya sangat buruk. Pasti ia raksasa yang berbahaya,” ujar salah seorang dari mereka.

“Tapi saya tadi sempat melihat wajahnya. Sepertinya ia belum dewasa, masih anak-anak. Apakah benar ia berbahaya?” ujar yang lain.

“Masih anak-anak atau sudah dewasa, tetap saja ia raksasa yang mungkin akan memangsa semua hewan ternak kita,” kata yang lain lagi.

“Kalau benar ia berbahaya, mengapa ia pergi begitu saja tanpa merusak ladang kita atau memakan hewan ternak?”

“Entahlah. Mungkin dia memang tidak memakan sayuran dan buah-buahan, bukan juga pemakan hewan. Tapi jangan-jangan ia pemakan manusia. Dan ia tadi pergi begitu saja karena tidak ada satu pun manusia yang ada di luar rumah.”

“Hii...!” semua penduduk jadi bergidik ngeri. Mereka takut kalau-kalau suatu saat nanti raksasa itu muncul lagi. Mereka belum tahu pasti dimana raksasa tersebut tinggal. Hingga suatu ketika salah satu penduduk pergi mendaki gunung Gonu untuk mencari bunga anggrek. Dan ketika itulah ia menemukan gua tempat raksasa itu tinggal. Raksasa itu sedang tertidur pulas di dalam guanya. Suara dengkurannya sampai terdengar dari jarak cukup jauh. bahkan napas tidurnya bisa menghisap daun-daun kering yang berserakan di sekitar gua. Segera saja orang itu turun ke desa dan memberitahukan dimana raksasa itu tinggal. Maka sejak saat itu para penduduk menyebutnya Si Gonu. Mereka tidak lagi berani mendaki gunung Gonu, hanya beberapa orang saja yang masih pergi ke gunung Gonu, itu pun dengan sangat berhati-hati agar tidak berjumpa raksasa Gonu.

Tapi tahukah kalian ternyata Gonu bukanlah raksasa yang jahat. Ia memang masih anak-anak, tapi tubuhnya sangat besar dan menakutkan. Waktu itu Gonu ingin turun ke desa di kaki gunung untuk berkenalan dengan manusia yang tinggal di sana. Sudah lama ia ingin berteman dengan manusia, tapi sebelumnya ia tidak berani. Ketika ia sudah berani turun ke pemukiman manusia, ternyata semua manusia itu lari tunggang langgang ketakutan melihat wajahnya yang menyeramkan. Gonu sangat terpukul hatinya melihat semua manusia lari menghindarinya. Ia langsung kembali ke gua tempat tinggalnya dan menangis tersedu-sedu di sana. Ia sangat sedih karena keinginannya untuk berteman tidak diterima, bahkan manusia takut padanya.

Di dalam gua Gonu menenggelamkan wajah ke kedua lengannya. Ia menangis hingga tanah gua itu basah oleh air mata. Suaranya meraung-raung memecah kesunyian hutan, tapi letaknya yang jauh dari desa membuat penduduk tidak mendengar suara tangisan Gonu.

“Hu...hu...hu... malang benar nasibku. Aku tidak punya teman, aku merasa kesepian di tengah hutan ini. Mengapa manusia-manusia mungil itu tidak mau berteman denganku? Hu...hu...hu... ini semua gara-gara wajahku yang menyeramkan. hu...hu...hu... aku tidak suka dengan wajahku!” mendengar Gonu menangis para hewan yang tinggal di hutan mendekati Gonu. Burung-burung bertengger di pohon apel di mulut gua, monyet-monyet bergelantungan di tangkainya, ada pula yang duduk di batu-batu dekat gua. Kijang, rusa, kodok, ular, semua merasa iba melihat Gonu menangis tersedu-sedu. Mereka tahu bahwa Gonu bukanlah raksasa yang jahat, bahkan ia sangat baik dan sering berbagi buah yang ia peroleh kepada binatang-binatang yang ditemuinya. Ia juga pernah menolong kijang yang terluka ketika terjatuh ke dalam jurang. Gonu tidak pernah menyakiti mahluk lain. Ia tidak memakan binatang seperti perkiraan manusia, tapi ia memakan buah-buahan yang tumbuh di gunung. Ia sangat suka berbagai macam buah, tapi hanya satu buah yang tidak pernah ia makan, yaitu buah apel yang tumbuh di depan guanya. Pohon itu adalah satu-satunya pohon apel di hutan gunung Gonu.

Seekor monyet mendekati Gonu, mengusap kepalanya dengan lembut. Gonu tengadah, matanya yang basah menatap monyet itu. Si monyet menyerahkan sebuah pisang kepadanya. Gonu menerima pisang itu dan tersenyum,

“Ya, kalianlah teman-temanku yang baik. Kalian yang selalu menemaniku setiap hari. Bermain denganku dan bernyanyi di dekat guaku. Ah, mengapa aku ini tidak bersyukur? Bukankah aku sudah memiliki teman-teman yang sangat baik? Tidak apa lah kalau aku tidak bisa berteman dengan manusia, toh aku sudah punya kalian. Aku tidak akan menyalahkan siapa pun, manusia-manusia itu hanya belum mengenalku. Iya kan?” Si monyet mengangguk setuju. Gonu tersenyum menatap semua hewan di sekelilingnya. Ia mengupas pisang pemberian monyet dan memakannya dengan riang. Monyet-monyet berteriak kegirangan, burung-burung berkicau ceria, semua senang melihat Gonu bahagia kembali.

Hingga suatu ketika Gonu berjalan-jalan mencari buah, ia turun sampai ke dekat pemukiman manusia. Tetapi ia tidak berani masuk ke pemukiman itu, ia khawatir kalau manusia akan lari lagi melihat dirinya. Apalagi Gonu sudah semakin dewasa sekarang, tubuhnya sudah lebih besar dua kali lipat dari ketika ia pertama kali ke pemukiman manusia. Gonu mendekati sebuah pohon sawo dan hendak memetik buahnya yang matang. Tiba-tiba ia mendengar suara gemuruh dari kejauhan. Dilihatnya tampak angin beliung berputar-putar di kaki gunung mendekati desa. Gonu terkesiap, angin itu pasti akan menghancurkan rumah-rumah dan semua sawah penduduk. Gonu mencoba untuk turun lagi, semakin mendekati desa itu tapi ia bersembunyi agar tidak ada satu pun manusia yang melihatnya. Angin beliung itu berputar-putar semakin dekat. Tanah yang dilaluinya dalam sekejap gundul karena tanamannya tersapu oleh angin. Para penduduk yang sore itu sedang beristirahat di beranda rumah mereka terkejut melihat angin yang tiba-tiba datang. Tapi terlambat, angin itu lebih cepat dari pada langkah kaki manusia.

“Awas, ada angin topan!”

“Tolong...!” semua orang berteriak minta tolong. mereka berpegangan satu sama lain, tapi ada saja yang terlepas dan tersapu angin. Atap-atap rumah beterbangan, pohon-pohon roboh, rumah-rumah porak poranda, hewan-hewan ternak berputar-putar masuk ke dalam arus angin itu. Semua orang panik. Mereka menjerit-jerit, menangis, dan berusaha berlari kesana kemari. Di antara orang-orang itu ada seorang ibu berlari sambil menggendong bayinya. Ia memeluk bayinya rapat di dadanya. Ia tak ingin kehilangan anak kesayangannnya itu. Tapi ketika angin mendekat, bayi kecil itu terlepas dari dekapan ibunya. Semua orang yang melihat menjerit, ibu itu menangis tak berdaya.

Bayi itu terlempar oleh angin dan sempat jatuh ke tanah. Sang ibu dan beberapa orang berlari hendak meraihnya, tapi bayi itu jauh dari jangkauan mereka. Gonu terkesiap melihat bayi manusia mungil yang jatuh di dekatnya bersembunyi. Ia bingung, apa yang harus ia lakukan? Gonu melihat orang-orang berlari mendekati bayi itu, namun angin itu lebih cepat dan hampir mendekati bayi. Tanpa pikir panjang lagi Gonu keluar dari persembunyiannya. Ia meraih bayi yang hanya sebesar ibu jarinya itu. sejenak ia bingung hendak di simpan di mana bayi itu agar selamat. Cepat-cepat Gonu membuka mulutnya yang besar dan memasukkan bayi ke dalam mulutnya. Orang-orang yang melihat hal itu sangat terkejut.

“Oh, raksasa itu memakan bayiku!” ibu itu menjerit dan menangis dari jauh. Namun orang-orang itu tidak bisa berbuat apa-apa, karena beberapa detik kemudian angin datang. Mereka berpegangan satu sama lain, mencoba bertahan pada pepohonan yang tidak tertiup angin. Semua orang semakin panik. Gonu tidak sempat menyingkir, angin itu sudah datang menuju ke arahnya. Tapi dengan tubuhnya yang besar ia bisa tetap berdiri tegak. Rambutnya yang panjang bergerak hebat tertiup angin, ia menutup matanya agar tidak kemasukan debu.

Tak lama angin beliung itu mulai reda. tidak ada lagi benda-benda yang beterbangan. Rumah-rumah sudah rata dengan tanah, semua tanaman rusak. Orang-orang tertegun menatap Gonu yang kini tampak jelas berdiri di hadapan mereka. Ibu tadi hanya menatap Gonu sambil menangis. Gonu terdiam, ia tidak berkata apa-apa. Gonu segera mengeluarkan bayi tadi dari dalam mulutnya dan menyerahkan pada ibunya. Ibu itu menangis tersedu, mendekap bayinya erat-erat. Semua orang terdiam menatap Gonu tidak percaya. Gonu tidak berkata apa-apa. Ia segera berbalik hendak kembali menuju hutan .

“Hei tunggu!” namun tiba-tiba ibu tadi memanggilnya. Ia berjalan perlahan mendekati Gonu,

“Terima kasih, kau telah menyelamatkan bayiku,” ujarnya lagi. Gonu tersenyum, ia duduk di depan ibu itu dan mengusap kepala sang bayi dengan ujung jarinya. Semua orang terkesima, mereka tidak menyangka raksasa yang selama ini mereka takuti ternyata bukanlah raksasa yang jahat. Satu persatu mereka memberanikan diri mendekati Gonu, menyentuh tangannya yang besar dan kasar. Manusia-manusia itu tidak lagi takut kepadanya. Gonu terharu, matanya berkaca-kaca. Ia merasa sangat bahagia, keinginannya selama ini untuk berteman dengan manusia kini tercapai.

Sejak saat itu tidak ada lagi manusia yang takut pada Gonu. Mereka kembali keluar masuk hutan seperti sebelumnya, mendaki gunung untuk mencari anggrek. Bahkan terkadang mereka mengunjungi gua Gonu. Gonu pun sesekali mengunjungi pemukiman manusia. Ia membiarkan anak-anak manusia bermain memanjat tubuhnya yang sangat besar dan bercakap-cakap dengan mereka.

“Gonu, boleh aku bertanya padamu?” ujar seorang anak pada Gonu ketika ia bermain ke gua Gonu.

“Boleh, tentu saja boleh.”

“Em... apakah benar kau dilahirkan dari perut gunung Gonu?” Gonu terseyum mendengarnya.

“Tidak, aku tidak dilahirkan dari perut gunung,” jawab Gonu seraya berpaling menatap pohon apel di depan guanya.

“Tapi aku dilahirkan dari apel.”

-2006-

PERI KECIL YANG CEROBOH




Desa Gunung Ratu tiba-tiba jadi heboh. Perkaranya di kebun jeruk milik Pemerintah Daerahnya ada satu pohon jeruk yang ajaib. Penduduk Desa Gunung Ratu menyebutnya begitu karena pohon jeruk itu berbuah apel. Aneh sekali kan?

Hari ini memang waktunya semua pohon jeruk di kebun itu berbuah secara bersamaan. Bakal-bakal buah jeruk yang kecil-kecil dan masih hijau mulai bermunculan, bergelantungan, dan tinggal tunggu beberapa minggu, buah-buah jeruk itu siap dipanen. Tapi tentu saja keberadaan pohon jeruk berbuah apel itu menggemparkan semua orang. Tidak ada yang tahu bagaimana hal ajaib itu bisa terjadi.

Dibalik itu semua, di sebuah tempat asing yang tidak terlihat menusia, sekumpulan anak-anak peri terperangah melihat ke sebuah pohon jeruk yang berbuah apel. Dan yang paling panik di antara mereka adalah Sisi, peri kecil yang melayang-layang di dekat pohon itu sambil mendekap tongkatnya dengan tangan gemetaran. Keringatnya bercucuran, bahkan ia hampir menangis ketakutan.

Mereka adalah bangsa peri yang tubuhnya sangat kecil, bersayap, membawa tongkat, dan mereka mempunyai tugas mengatur pertumbuhan semua tanaman di bumi. Mereka yang membantu supaya bunga-bunga bermekaran, daun-daun bersemi, dan pohon-pohon berbuah. Tapi hari itu terjadi kesalahan fatal. Sisi, peri kecil itu, telah menyulap buah apel di pohon jeruk. Itu karena sifatnya yang ceroboh dan kurang berhati-hati. Sisi memang memiliki sifat seperti itu, sudah sering ia melakukan kesalahan akibat kecerobohannya. Ia pernah membuat lebah-lebah marah dan menyerang istana peri gara-gara Sisi iseng mengganggu dan membangunkan bayi lebah. Dan pagi itu ia membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya, kesalahan yang mungkin akan membuatnya diadili hingga ke hadapan Raja. Iiih, Sisi ngeri membayangkannya. Sebenarnya ia hanya ingin mencoba-coba kemampuannya menumbuhkan buah yang baru saja ia pelajari di sekolah seminggu yang lalu. Tapi ternyata dia belum menguasai ilmu itu. Dan akibatnya pohon jeruk yang seharusnya berbuah jeruk, kini berbuah apel. Dan Sisi tidak tahu bagaimana cara mengembalikan ke kondisi semula.

“Sisi, bagaimana ini?” tanya Rowan, salah satu teman Sisi.

“Ini salah Sisi, ini salah Sisi. Aku tidak ikut campur. Aku tidak mau ikut disalahkan,” ujar Marka, teman Sisi yang lain. Peri lainnya juga mengangguk setuju, semua takut turut disalahkan atas kejadian itu.

“Tapi aku takut. Tolong jangan ceritakan ini pada siapa pun. Pada orang tua kita, pada Ibu Guru, apalagi pada pengawas tanaman. Aku tidak mau diadili, aku tidak mau masuk penjara,” mata Sisi berkaca-kaca, ia mulai menangis.

“Tapi ini kan salahmu. Kita kan sudah dilarang menggunakan tongkat kita hingga kita lulus sekolah dasar. Siapa suruh kamu main-main tongkat itu. Kami tidak mau ikut dihukum gara-gara kesalahanmu,” sahut Maya.

“Tapi bagaimana pun juga kita harus menolong Sisi,” timpal Rowan.

“Menolong bagaimana? Kita kan tidak diperbolehkan berbohong dengan mengatakan bahwa Sisi tidak bersalah.”

“Ah, tolonglah berbohong saja. jangan bilang siapa-siapa,” Sisi sudah menangis tersedu-sedu.

“Tidak mungkin Sisi, cepat atau lambat pengawas tanaman akan mengetahui hal ini. Dan mereka pasti bisa menemukan siapa pelakunya. Akan lebih sulit lagi jika kamu tidak mengakui sedari awal.” Ternyata benar, dari kejauhan terdengar dengung sayap bergerak serentak. Itu adalah suara barisan terbang peri pengawas tanaman. Perri-peri kecil berhamburan melarikan diri. Mereka bersembunyi di balik rimbunnya dedaunan. Ketika pasukan peri pengawas tanaman itu lewat mereka serentak berhenti di depan pohon jeruk berbuah apel itu. Bukan hal yang sulit bagi mereka bila melihat ada kesalahan sedikit saja pada tanaman, mereka sudah sangat terlatih dengan hal itu.

“Siapa yang melakukan ini?” sang komandan berteriak marah. Ia berpaling menghadap pasukannya,

“Segera lakukan penyelidikan dan tangkap pelakunya!”

“Siap, laksanakan!” pasukan itu menyahut serempak. Sisi semakin gemetaran di tempat persembunyiannya. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia ingin lari, pergi jauh dan tidak kembali agar tidak perlu menerima hukuman.

Setelah pasukan itu pergi, peri kecil keluar lagi satu per satu. Mereka kembali berkumpul.

“Bagaimana ini?” Sisi sesenggukan.

“Sisi, kita tidak punya pilihan lain. Kita harus berterus terang,” jawab Rowan.

“Tapi pada siapa? Apa kita harus menyerahkan Sisi ke pengawas agar dia dipenjara?” tanya Maya.

“Bagaimana kalau kita bilang saja pada Ibu Guru. Ibu Guru pasti tahu jalan terbaiknya.” Semua setuju, termasuk Sisi, walau pun ia ketakutan setengah mati. Akhirnya terbanglah mereka ke rumah Ibu Guru. Mereka terbang perlahan-lahan, dan sepanjang perjalanan mereka tidak berkata apa pun. Semua saling diam.

Sesampainya di kerajaan peri ternyata berita tentang pohon jeruk berbuah apel sudah menyebar ke seluruh penduduk. Mereka semua terkejut dan bertanya-tanya siapa yang melakukan hal itu. Sisi semakin ketakutan melihat reaksi para peri itu. tapi dia tidak punya pilihan lain. Sesampainya mereka di rumah Ibu Guru, Ibu Guru sedang berbincang-bincang dengan tetangganya di depan pagar. Tampaknya Ibu Guru baru saja mendengar berita menggemparkan itu. Kemudian Ibu Guru melihat beberapa muridnya terbang mendekat.

“Selamat pagi, anak-anak manis. Senang sekali kalian main ke sini. Ayo masuk, Ibu akan menyediakan madu yang paling lezat untuk kalian.” Mereka mengikuti Ibu Guru masuk tanpa berkata apa-apa. Semuanya bingung. Setelah Ibu Guru menyediakan madu yang diletakkan pada sekuntum bunga, mereka mulai siap berbicara.

“Ibu Guru,” Rowan sebagai ketua kelas mewakili berbicara. Ibu Guru menunggu Rowan melanjutkan pembicaraannya dengan sabar.

“Ibu pasti sudah dengar tentang pohon jeruk berbuah apel kan?”

“Ya benar. Ibu baru saja dengar. Memangnya ada apa? Oh, jangan! Bukan kalian kan...?” Ibu Guru tidak sanggup meneruskan ucapannya. Dan tepat ketika itu Sisi meledak kembali tangisannya. Ibu Guru memandang Sisi terkejut.

“Sebenarnya yang melakukan itu Sisi, Bu,” ujar Marka.

“Betul begitu Sisi?” Sisi tidak sanggup menjawab. Ia hanya mengangguk sambil menutup wajahnya yang basah oleh air mata.

“Tapi Sisi tidak sengaja Bu,” Marka menambahkan.

“Iya Bu, Sisi tidak sengaja,” tambah Maya. Ibu Guru memeluk Sisi, berusaha menenangkannya.

“Sisi mencoba-coba tongkatnya pada pohon jeruk itu,” kata Rowan lagi.

“Maafkan aku, Ibu Guru. Jangan laporkan aku pada pengawas. Nanti mereka akan menghukumku dan memenjarakanku,” Sisi menangis tersedu-sedu di pelukan Ibu Guru.

“Tapi Sisi, kamu tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Dan Ibu yakin para pengawas tidak akan memenjarakanmu. Mereka cukup bijaksana untuk memahami bahwa kamu tidak sengaja. Jadi kita harus ke kantor pengawas. Bagaimana?” Ibu Guru berusaha membujuk dan meyakinkan Sisi bahwa semua akan baik-baik saja. Akhirnya Sisi dan semua peri kecil itu setuju untuk pergi ke kantor pengawas tanaman.

Kemudian pergilah mereka semua ke kantor pengawas. Di sana Ibu Guru mewakili peri kecil berbicara pada komandan. Komandan itu tersenyum-senyum saja mendengar penjelasan Ibu Guru.

“Baiklah Sisi, kamu memang bersalah,” ujar Komandan sambil memandang Sisi. Sisi sampai takut sekali.

“Tapi kamu tidak usah khawatir, kamu tidak akan dipenjara. Tapi kamu pasti akan mendapat hukuman. Dan hukuman itu akan saya serahkan pada gurumu. Mengenai pohon itu, serahkan saja pada kami. Pasukan kami akan memperbaiki kesalahannya dan mengubah buah-buah apel itu menjadi buah jeruk. Tapi kami harus melakukannya pada malam hari ketika manusia tidak ada yang melihat.” Betapa leganya hati Sisi dan teman-teman mendengar penjelasan Komandan. Mereka mengucapkan banyak terima kasih dan segera pergi dari situ.

“Nah Sisi, sebaiknya kamu mengambil pelajaran dari ini semua, juga kalian,” ujar Ibu Guru sambil terbang pulang sekeluarnya mereka dari kantor pengawas,

“Jangan sembarangan menggunakan benda-benda yang kita belum tahu betul cara pemakaiannya, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kalau kalian tetap ingin mencoba sesuatu pastikan ada peri dewasa yang bisa memantau kalian, apalagi kalau bisa membimbing kalian.” Semua peri kecil mengangguk mengerti.

“Untukmu Sisi, kamu tetap harus mendapat hukuman. Ibu akan menyimpan tongkatmu dan tidak akan Ibu kembalikan hingga kamu naik kelas pertengahan tahun ini. Tapi setiap kali pelajaran di kelas kamu boleh menggunakannya untuk keperluan belajar. Tapi kamu harus berhati-hati, karena sekali lagi kamu melakukan kesalahan, hukumannya akan semakin berat. Kamu mengerti?” lagi-lagi Sisi mengangguk tanpa bicara.

Dan bagaimana dengan warga Desa Gunung Ratu? Kegemparan kembali terjadi keesokan harinya ketika pohon jeruk berbuah apel itu kembali berbuah jeruk. Dan mereka semua menganggap bahwa kejadian kemarin adalah mimpi masal yang dialami oleh seluruh penduduk Desa.

-2006-

TERBANG KE BULAN




Kakakku seorang pembual. Dia sering sekali menceritakan hal-hal yang tidak masuk akal. Digigit biawak di belakang sekolah, menemukan terngkorak manusia setelah tanpa sengaja ia menginjaknya, memiliki teman yang ibunya penyihir, kucing siluman yang mengaum, sampai cerita bualan bertemu Michael Jackson. Dulu aku mempercayai setiap ceritanya. Bahkan sering kali mulutku terbuka menganga mendengar suara-suara ledakan atau gemeretak yang dia ucapkan ketika dia bercerita. Tapi kini aku tidak percaya lagi, aku sudah tahu kalau semua cerita itu bohong belaka.

Hingga suatu pagi saat sarapan dia menunjukkan sesuatu padaku.

“Ini batu bulan,” ujarnya. “Aku mengambilnya tadi malam waktu aku terbang dan mendarat di sana.” Aku melengos dan melanjutkan sarapan serealku.

“Nggak percaya?” ujarnya seraya mendekat, hingga wajah kami hanya berjarak kurang dari sekepalan tangan. Aku cuma angkat bahu.

“Lihat dulu donk, mana ada batu kayak gini di bumi,” dia menyorongkan sebuah kain hitam di tangannya. “Nih lihat!” ujarnya sembari membuka kain hitam itu. Sambil tetap menyuapkan sereal ke mulutku aku menatap batu itu.

Aku memang belum pernah melihat batu seperti itu sebelumnya. Warnanya putih, bentuknya oval dan sangat halus, seperti diamplas oleh seorang tukang batu yang sangat ahli. Tapi satu hal yang membuat sendok sereal berhenti di depan mulutku adalah batu itu tampak berkilau terbungkus kain hitam. Seperti sebuah telur yang menyala, tapi tidak seterang lampu. Sinarnya lembut seperti bulan purnama. Dan ada bercak-bercak kehitaman di beberapa bagiannya.

“Eits!” ujar kakakku sambil menarik batu di tangannya, ketika aku hendak menyentuhnya. “Dilarang pegang-pegang, nanti rusak.”

“Hhh,” aku melengos. Kalau sudah begitu berarti dia bohong lagi, seperti biasanya. Dan aku melanjutkan sarapanku tanpa ingin diganggu. Tapi dia tidak beranjak, justru dia menggeser kursinya semakin dekat.

“Tadi malam aku naik gelembung ke bulan.”

“Oke, hebat,” ujarku sekenanya.

“Aku nggak bohong!” jawab kakakku.

“Ya, percaya. Salam buat Michael Jackson ya,” jawabku. Aku memang masih kesal dengan kejadian itu. Ketika dia bilang Michael Jackson datang ke Indonesia dan mengunjungi kota kami. Dia bilang dia sudah bertemu Michael Jackson di toko batik.

“Michael mau beli kain batik,” ujarnya waktu itu, dan aku percaya. Aku sangat bersemangat untuk melihatnya juga. Aku memang penggemar berat Michael Jackson. Aku suka sekali melihat dan mendengarkan koleksi album Michael Jackson milik ibuku. Dan aku sangat bersemangat untuk bisa bertemu dengannya. Maka aku mengunjungi hotel yang, kata kakakku, tempat Michael Jackson menginap. Bukannya bertemu Michael Jackson, yang ada malah aku ditertawakan semua satpam penjaga hotel itu.

“Kita bisa bikin gelembung yang besar... banget,” lanjut kakakku sambil menggerakkan tangannya membentuk lingkaran besar. “Kita masuk ke gelembung itu. Dan terbang ke bulan.”

“Gitu ya,” jawabku sekenanya sambil angguk-angguk kepala. Lalu segera beranjak setelah sarapanku habis. Kakakku mendengus berat,

“Ya sudah kalau gak percaya. Tapi kalau kamu mau aku bisa ajak kamu nanti malam, kita ke bulan.” Tapi aku tidak mendengarkan. Aku segera mengambil tasku dan menunggu Ayah di teras.

Tapi aku perhatikan ada yang aneh pada sikap kakakku hari itu. Dia kelihatan gelisah sekali. Biasanya pada jam istirahat dia bermain dengan teman-temannya atau jajan ke kantin. Tapi kulihat dia cuma duduk di kelasnya, yang berseberangan dengan kelasku, selama istirahat. Sambil menggenggam kain hitam berisi batu erat di tangannya dia tampak memperhatikan jam berulang kali.

Ketika bel pulang berbunyi dia segera berlari dan naik angkutan pertama yang lewat, meski pun harus berdesakan dengan banyak anak lain. Padahal biasanya dia paling tidak suka berdesakan di angkutan. Kakakku lebih suka bermain dengan teman-temannya sambil menunggu sampai angkutan tidak terlalu penuh. Walhasil aku juga ikut terlambat pulang ke rumah setiap hari. Tapi kali ini dia bahkan tidak menungguku dan tidak mendengar panggilanku.

Sesampainya di rumah keanehan sikap kakakku tidak berhenti. Dia sudah berada di halaman belakang dan membuat gelembung sabun. Dia terlihat sangat serius dan berusaha keras untuk membuat gelembung besar. Diayunkan kawat pembuat gelembung mengelilingi badannya, tapi selalu gagal. Gelembung itu meletus sebelum lingkaran terbentuk. Ibu merasa sangat heran, karena tidak seperti biasanya kakak harus dipanggil berulang kali untuk makan siang. Dan dia tetap menolak. Bukan, bukan menolak. Tapi seperti tidak mendengar suara apa pun! Dia seperti berada di dunia asing yang hanya dia sendiri yang tahu. Dia sibuk sekali dengan kawat pembuat gelembung yang paling besar, hampir sebesar ukuran badanku saat berlutut. Dengan baskom paling lebar yang ibu miliki kakakku membuat air sabun kental yang dicampur remasan daun kembang sepatu.

Aku terkesima melihatnya. Dia terlihat sangat berambisi membuat gelembung paling besar. Tapi bukan hanya itu saja yang membuatku terheran-heran. Betapa dia terlihat sangat khusyuk dan serius dengan kawat gelembung dan busa sabunnya. Ia menarik kawat ke sekeliling badannya, hingga terbentuk gelembung besar lonjong yang bergemeletar seperti kepompong raksasa dalam film alien. Tapi lagi-lagi pecah dan pecah. Tidak pernah berhasil.

Sampai sore kakakku baru berhenti mencoba membuat gelembung. Itu pun ia lakukan karena Ayah sudah menjewer kuping kanannya, dan kakakku terpaksa mengikuti Ayah masuk rumah kalau dia tidak ingin kupingnya putus dan tertinggal di tangan Ayah. Tapi dia masih juga terlihat begitu misterius. Dia makan nasinya cepat-cepat, ambil air wudhu cepat-cepat, sholat cepat-cepat (kalau yang ini aku tidak terlalu heran, karena sholat kakakku memang kilat secepat kereta ekspres).

Dia sempat berhenti menyuapkan makan malamnya, lalu memandangku.

“Aku mau mencoba ke sana lagi malam ini,” ujarnya sambil mengendikkan dagunya ke atas, dan matanya melirik sedetik ke plafon rumah. Aku mengangkat alisku.

“Bulan!” ujarnya sambil berbisik tapi tetap terdengar sewot. “Kalau kamu mau ikut kamu bantu aku. Kayaknya dengan usaha 2 orang,” sejenak kakak melirik ke Ibu yang sedang mencuci panci. “Bikin gelembungnya lebih mudah. Soalnya kita harus bikin gelembung sebesar badan kita, jadi kita bisa masuk ke dalamnya dan terbang ke sana. Gimana?” ujarnya masih berbisik. Aku mencibir. Kali ini aku tidak bisa ditipu, ujarku dalam hati. Kakak Cuma mengendikkan bahunya sesaat lalu melanjutkan makan. Aku kagum dengan kemampuan perutnya menampung makanan sebanyak itu hanya dalam selisih waktu 2 jam dari makan siangnya yang kesorean.

Kemudian dia kembali sibuk dengan obsesi gelembung raksasanya. Mau tak mau aku penasaran juga dengan usahanya yang tidak seperti biasa itu. Aku memandanginya dari jendela ruang tengah. Aku ingin tahu apakah dia akan berhasil terbang ke bulan dengan gelembungnya. Ayah dan ibu sudah menyerah menyuruhnya melakukan hal lain. Dan ayah membiarkannya dengan alasan mungkin kakak sedang bereksperimen. Beberapa kali dia hampir berhasil, tapi ketika ia hendak memasukkan kakinya ke dalam gelembung itu, tentu saja, gelembung itu pecah dan menyemburkan air sabun ke sekeliling wajahnya.

Lama-lama aku bosan juga. Lalu kuputuskan untuk masuk kamar dan tidur. Tapi gara-gara seharian aku memperhatikan kakakku, sampai-sampai akhirnya terbawa mimpi. Aku seperti seumur hidup akan menyaksikan kakakku memegang kawat gelembung dan berputar-putar perlahan, berusaha membuat gelembung di sekeliling tubuhnya. Gelembung pecah, air sabun menyembur, lalu dia celupkan lagi kawatnya ke baskom, dan mulai menariknya lagi untuk menciptakan gelembung. Lagi, lagi, dan lagi. Adegan ini sungguh sangat menghantui tidurku. Tiba-tiba aku terbangun tepat ketika akhirnya kakakku berhasil membuat gelembung yang sangat besar.

“Wahyu, Wahyu!” suara kakakku memanggil. Aku mencarinya, dia tidak ada di ranjangnya di sebelahku.

“Wahyu!” suaranya kembali terdengar dari arah jendela. Spontan aku melompat dan membuka jendela. Dan aku melihatnya, kakakku, dia melayang terbang. Dia berlutut di dalam gelembung raksasa dan mengambang semakin tinggi. Dia tersenyum lebar seraya melambai padaku. Terbata-bata aku berusaha memanggilnya, tapi lidahku terasa kaku seperti stik es krim. Aku berlari ke ruang tengah dan membuka pintu menuju halaman. Kakakku sudah sangat tinggi, aku tidak mampu meraihnya meski pun aku sudah berusaha melompat setinggi mungkin.

“Mas Anang!” akhirnya lidahku bisa kugerakkan. “Mas Anang! Jangan pergi!”

Tapi Mas Anang sudah semakin tinggi dan sebentar lagi pasti hilang dari pandanganku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku cuma berharap setelah ini aku terbangun dan Mas Anang masih tidur di kasurnya di sebelahku.

-2006-

BOLA-BOLA PLANET LABO




“GOOLLL!!!” Arif, Setyo, dan Dedy berlari serentak sambil mengacungkan tangannya ke udara. Kemudian mereka menabrakkan dada di tengah lapangan lalu menari-nari kegirangan. Sementara Coki dan Erfan hanya mengeluh dan menatap Pandu tidak mengerti.

“Pandu!” teriak Coki pada Pandu.

“PANDU!!” kali ini Coki dan Erfan berteriak bersamaan. Mereka heran dan setengah marah melihat Pandu yang hanya berdiri terpaku menatap ke semak-semak di tepi lapangan. Ia sama sekali tidak menghiraukan bola yang menjebol pertahanan gawangnya atau pun teriakan Coki dan Erfan padanya.

“Kamu ngapain sih?” tanya Erfan kesal.

“Ada sesuatu di sana,” Pandu menunjuk ke arah semak-semak yang dipandangnya. Erfan, Coki, Arif, Setyo, dan Dedy jadi tertarik pada sesuatu yang dilihat Pandu itu. Mereka mendekati Pandu dan memandang ke semak-semak itu juga. Awalnya mereka tidak menemukan apa pun. Namun tiba-tiba dua bola mata besar sebesar bola pingpong menatap mereka kemudian berkedip sesaat.

“Lihat! Apa itu?” teriak Pandu sambil menunjuk mata yang berkedip barusan. Mereka pun berlarian ke arah dua bola mata tadi. Tapi bola mata itu sudah hilang. Mata itu sangat aneh. Rasanya kalau itu mata seekor binatang pasti binatang yang sangat besar. Tapi mereka tidak menemukan tubuh besar berbulu atau ekor panjang mengkilat yang keluar dari semak-semak itu. Pandu melangkah semakin mendekat.

“Pandu, hati-hati!” ujar Setyo memperingatkan. Pandu tak mempedulikan peringatan Setyo. Dia melangkah lagi hingga perutnya menempel pada semak-semak itu. Kemudian dia menyibak daun-daun lebatnya. Tiba-tiba sesuatu melompat muncul dari tengah semak-semak yang disibak oleh Pandu. Sesuatu itu berbentuk bulat, sebesar bola basket. Benda itu melayang sangat tinggi kemudian menghilang begitu saja. Keenam anak laki-laki tadi terdiam tak bisa bicara. Mereka baru saja melihat entah bola atau hewan, mereka tidak pasti. Yang jelas dia hidup dan bisa melompat.

“Apa itu?” tanya Dedy setelah sesaat mereka terdiam terpaku.

“Sesuatu,” sahut Coki, “Sesuatu yang bulat berwarna kuning dan dapat melompat.”

“Tidak, warnanya ungu,” sahut Arif.

“Menurutku kuning,” kali ini Pandu yang bicara.

“Mataku melihatnya ungu,” sela Setyo.

“Sepertinya kuning,” ujar Dedy. Mereka berlima serentak menoleh pada Erfan yang belum bicara.

“Ungu,” sahut Erfan perlahan.

“Entahlah. Ungu atau kuning yang jelas benda tadi sangat aneh. Aku belum pernah melihat benda seperti itu,” ujar Pandu.

“Aku mau pulang saja. Aku jadi ngeri dengan tempat ini,” kata Coki.

“Aku juga,” sahut Setyo. Yang lain pun setuju. Akhirnya mereka melangkah pulang dengan saling diam.

“Mungkin aku akan bercerita pada kakakku tentang apa yang baru saja kita lihat,” ujar Dedy.

“Apakah dia akan percaya? Kupikir tidak. Tidak akan ada orang yang percaya kita baru saja melihat benda aneh berbentuk bola berwarna ungu atau kuning hidup dan melompat meninggalkan kita,” kata Coki.

“Yah, kau benar. Tidak akan ada yang percaya,” kata Dedy lagi.

Sementara itu di tempat lain yang sangat jauh dari lapangan tempat mereka bermain, bahkan sangat jauh dari permukaan bumi, sebuah benda berbentuk seperti telur melayang perlahan di permukaan sebuah planet yang bentuknya bulat seperti bola, lalu mendarat di tanah yang berbulu lembut dan berwarna biru terang. Bagian atas telur itu membuka, menampakkan isinya yang berbentuk datar dan berlapis bulu lembut berwarna putih dengan lubang-lubang seukuran lebih besar dari bola basket. Di setiap lubang itu terdapat satu benda bulat sebesar bola basket. Lalu salah satu bola berwarna kuning totol-totol ungu melompat dan mendarat di tanah kemudian memantul-mantul sendiri tanpa ada orang yang menggerakkannya. Bola itu terus memantul kemudian menggelinding bila jalannya menurun. Di sekitarnya juga banyak bola-bola lain yang memantul-mantul dan menggelinding-gelinding ke berbagai arah dengan warna dan motif yang berbeda-beda. Bila diperhatikan tempat itu sangat indah dengan berbagai warna bola dan lapisan tanah berbulu lembut berwarna biru terang.

Ya, itu adalah sebuah planet, planet yang lain dari bumi, mars, venus, dan semua planet yang kita ketahui. Planet itu bernama planet Labo. Planet Labo berbentuk bulat berlapis bulu lembut berwarna biru terang. Penduduk penghuni planet itu juga berbentuk bulat seperti bola dengan warna yang berbeda-beda. Ada yang kuning totol ungu, hijau bergaris abu-abu, atau pun putih polos. Ukurannya berbeda-beda sesuai usianya, yang bayi sebesar bola tenis, yang lebih besar seukuran bola volly, dan yang dewasa seukuran bola basket. Cara mereka berjalan dengan memantul dan menggelinding. Bila mereka berjalan mereka menutup kelopak matanya, namun mereka memiliki sensor agar tidak bertabrakan dengan yang lain. Dan setelah berhenti baru mereka membuka mata.

Tiba di sebuah ruangan bola kuning totol-totol ungu itu berhenti. Lalu ia berputar sesaat, kemudian terbukalah dua bola mata sebesar bola pingpong mengerjap-ngerjap sesaat. Di hadapannya sebuah bola berwarna perak duduk di sebuah kursi dengan dudukan bulat berlapis bulu lembut berwarna hitam. Ia terlihat sangat agung duduk di kursi itu.

“Bagaimana perjalanmu ke bumi, Aton?” ujar bola perak itu melalui mulutnya yang seperti sobekan di bawah mata.

“Ehm Ketua, saya ingin melaporkan sesuatu,” ujar bola kuning totol-totol ungu yang bernama Aton itu pada bola perak yang ternyata adalah ketuanya. Sang ketua hanya mendehem perlahan menanti Aton bercerita, “Eh, penduduk bumi ternyata sangat jahat, Ketua. Ternyata di sana ada juga mahluk-mahluk yang sebangsa dengan kita, bentuk tubuhnya sama seperti kita. Tapi… tapi… hhh!” Aton menghela napas berat. “Tapi mereka mempermainkan mereka, Ketua,” mata Aton melotot penuh amarah.

“Mempermainkan?” tanya Ketua. Kali ini matanya sedikit menyipit dan tubuhnya sedikit menggelinding ke depan di kursinya, seakan-akan ia ingin melihat Aton dari atas kepalanya.

“Benar, Ketua. Mereka menendang, memukul, meninju, bahkan menginjak-injak mereka, Ketua.”

“Kau yakin, Aton?” Ketua sangat terkejut, matanya masih menyipit dengan suara yang ditekan dalam.

“Saya yakin sekali, Ketua. Saya melihat sendiri kejadian itu. Tidak hanya di satu tempat, tapi hampir di seluruh permukaan bumi, manusia penduduk bumi itu memperlakukan bangsa kita dengan sangat jahat,” kali ini Aton sudah sangat emosi. Dia melompat-lompat dengan cepat. Ketua terdiam sesaat, di atas matanya terbentuk garis melintang menandakan ia berpikir keras.

“Kita harus segera bertindak,” ujar Ketua.

“Betul Ketua! Betul Ketua!” lompatan Aton semakin tinggi.

“Kita harus turun ke bumi dan menyelamatkan saudara-saudara kita.”

“Betul Ketua! Betul Ketua!” dan semakin tinggi lagi.

“Kita akan membawa saudara-saudara kita itu ke sini.”

“Ayo Ketua! Ayo Ketua!” lalu semakin cepat.

“Kalau manusia-manusia itu tidak bersedia menyerahkan mereka maka kita akan memaksa mereka.”

“Iya Ketua! Iya Ketua!” kali ini lompatan Aton sangat tinggi hingga menyentuh langit-langit ruangan.

“SIAPKAN PESAWAT DAN PASUKAN. KITA BERANGKAT MENUJU BUMI!” Ketua melenting turun dari kursinya dan melompat-lompat keluar ruangan diikuti Aton dan para prajurit berwarna hijau putih bercorak telur puyuh. Dalam sekejap pasukan bola-bola bersiap. Mereka menyalakan 10 pesawat tempur. Ketua dan Aton naik ke pesawat yang paling besar. Dan mereka pun berangkat menuju bumi.

Di bumi hari Minggu pagi. Pandu dan teman-temannya yang lain bermain bola lagi di lapangan yang sama. Mereka tidak tahu bahwa 10 pesawat berbentuk oval telur sedang menuju mereka. Memasuki babak kedua ketika skor 2-1 untuk Pandu, Arif dan Setyo, tiba-tiba cahaya yang sangat terang menyinari kepala mereka. Keenam anak laki-laki itu berhenti bermain. Mereka menengadah melihat langit tapi sinar itu terlalu menyilaukan sehingga mereka tidak dapat melihat apa pun. Suara dengungan lembut terdengar dan angin bertiup kencang meniup rambut mereka. Tapi lama kelamaan mereka dapat melihat bayangan benda berbentuk telur yang sangat besar turun perlahan menjejak tanah mengelilingi mereka. Mereka terdiam dan berdiri menganga melihat benda-benda asing itu. Pandu mendekap bola sepaknya erat-erat di dada seakan bola itu tiang yang dapat ia pegangi agar tidak terjatuh. Rasanya mereka ingin lari tapi entah mengapa kaki mereka rasanya kaku dan hati mereka penasaran ingin tahu benda apa itu. Lalu telur raksasa itu membelah, bagian atasnya yang merupakan atap terbuka ke arah atas. Tampaklah di dalamnya benda-benda bulat sebesar bola basket berwarna-warni di dalam cekungan-cekungan berwarna putih seperti kain lembut. Bola-bola itu tiba-tiba melenting dan turun ke tanah. Kemudian mengelinding ke arah Pandu dan kawan-kawan. Yang paling depan bola berwarna perak terang diikuti bola kuning totol-totol ungu, si Aton, dan bola-bola berwarna hijau putih bercorak seperti telur puyuh, para prajurit. Pandu dan kawan-kawan ternganga antara terkejut dan terpesona. Setelah bola-bola itu berhenti, dua bola mata terbuka dan membelalak ke arah mereka. Pandu dan kawan-kawan terkejut bukan kepalang. Mereka merapat ketakutan, yang satu saling berlindung di belakang punggung yang lain. Tapi percuma saja. Puluhan prajurit bola sudah mengeliling mereka, tidak memberi celah untuk lari.

“Manusia bumi,” ujar bola perak, sang Ketua. Anak-anak itu berjengit mendengar bola itu mengeluarkan suara.

“Aku Ketua dari planet Labo, planet yang jauh dari bumi. Kami kemari untuk tujuan yang baik. Kami tidak ingin mencari masalah dengan kalian. Karena itu kami juga berharap kalian dapat bekerjasama dengan kami.” Anak-anak itu masih diam tak berbicara, lidah mereka kaku dan kerongkongan mereka kering. Dedy mulai mengerang ingin menangis.

“Kami kemari untuk menjemput saudara-saudara kami. Kami ingin membawa mereka ke planet Loba dan hidup bersama kami,” Ketua terdiam sesaat, matanya menatap Pandu tajam. Pandu menelengkan kepalanya ke arah teman-temannya, tapi mereka malah semakin bersembunyi di belakang punggung Pandu dan mencengkram kaosnya erat-erat.

“Kami mohon kalian serahkan saudara kami,” ujar Ketua lagi.

“Sa – saudara yang mana? Kami tidak mengenal saudara anda,” jawab Pandu dengan suara bergetar.

“Yang anda tahan itu,” kata Ketua lagi. Pandangan Pandu dan teman-temannya jatuh ke bola di dada Pandu.

“Kasihin aja, Du! Biar cepat pergi,” ujar Setyo dalam ketakutannya. Yang lainbergumam setuju. Pandu segera menuruti usul teman-temannya walau pun mereka masih tidak memahami maksud Ketua. Pandu membungkuk perlahan lalu menggelindingkan bola itu ke arah Ketua. Salah satu prajurit bola menggelinding mendekati bola sepak itu dan menyentuhnya perlahan. Tapi tentu saja bola itu diam saja. Prajurit itu menyentuhnya lebih keras, tapi bola sepak masih juga diam. Kali ini Ketua yang mendekatinya dan menyentuh bola sepak, tapi sama saja. Aton juga menyentuhnya, juga dua prajurit yang lain.

“Ada apa dengan dia? Mengapa dia diam saja?” tanya Ketua pada Pandu.

“Di – dia kan cuma bola,” jawab Pandu.

“Bola?”

“Iya, bola. Dia cuma bola. Dia tidak punya mata dan mulut seperti kalian.”

“Tidak punya?” tanya Ketua lagi dengan suara yang semakin tinggi. Pandu menggeleng.

“Dia tidak hidup seperti kalian.” Gumaman-gumanan lalu ramai terdengar. Ada yang marah, ada yang tidak percaya, ada yang terkejut. Pandu memberanikan diri mendekati mereka. Dia berjongkok di dekat Ketua dan meyentuh bola itu perlahan,

“Ini bola yang terbuat dari kulit yang dijahit kemudian di beri warna,” pandu menunjukkan garis benang yang saling melintang dan seutas benang yang sudah mencuat keluar.

“Jadi, ini bukan bangsa kami?” Pandu menggeleng lagi. Tiba-tiba Ketua tertawa terbahak-bahak, lalu Aton juga tertawa dan disusul lagi oleh prajurit-prajurit bola. Mereka semua tertawa tergelak-gelak. Pandu juga tertawa kecil dan teman-temannya nyengir ragu-ragu.

“Maafkan kami. Kami membuat telah membuat kesalahan. Kami kira kalian bangsa manusia sangat jahat karena tega mempermainkan saudara kami dengan menendang, memukul, meninju dan menyundul benda-benda bulat ini,” ujar Ketua masih sambil tertawa kecil. Matanya berair saking gelinya. Pandu lalu menceritakan apa yang baru saja mereka lakukan dengan bola itu. Dia juga bercerita kalau bola di bumi sangat banyak jenisnya untuk berbagai olah raga. Dan semua jenis olah raga itu adalah permainan yang sangat mengasyikkan.

“Kalau begitu kami ingn menonton permainan kalian,” ujar sang Ketua. Pandu dan teman-temannya pun lalu mempertunjukkan permainan bola mereka di hadapan para bangsa bola. Mereka berkumpul di salah satu sudut lapangan dan bersorak sorai melihat pertandingan itu.

“Wah, permainan kalian sangat menarik. Kami menyukainya. Tapi sayang kami harus kembali sekarang. Kami senang mengetahui bahwa ternyata perkiraan kami salah. Kami mohon maaf atas kesalahpahaman ini,” ujar Ketua.

“Tidak apa-apa,” jawab Pandu, “Kami juga senang bertemu dengan kalian. Dan mungkin lebih baik kalian berhati-hati kalau datang ke bumi lagi. Jangan-jangan kalau ada yang melihat kalian dia akan menendang kalian.” Mereka tertawa kembali.

“Bawalah ini,” ujar pandu sambil menyorongkan bola sepaknya, “Sebagai kenang-kenangan.” Ketua sangat senang menerima bola itu. Salah satu prajuritnya menggiring bola sepak itu dengan tubuhnya sendiri dan menaikkannya ke pesawat. Mereka semua lalu kembali ke atas pesawat. Sesaat Ketua tersenyum pada Pandu dan teman-temannya lalu atap pesawat menutup perlahan dan mulai berdengung kembali. Sinar-sinarnya tepancar dan telur-telur besar itu melayang meninggalkan Pandu dan teman-temannya.

-2005-