
Tidak seperi biasanya, begitu imam sholat subuh mengakhiri sholat dengan salam ke kanan dan kiri, Adi dan Fabian segera melesat keluar masjid. Mereka tidak berdzikir dan berdoa terlebih dahulu seperti yang biasa mereka lakukan.
Adi dan Fabian, dengan berjalan perlahan-lahan, mengambil sepeda mereka yang ditambatkan di pohon belimbing di halaman masjid. Tanpa berbicara, hanya dengan isyarat mata, mereka mengayuh sepeda menjauhi masjid.
“Kamu bawa kan?” tanya Adi pada Fabian. Fabian hanya mengangguk seraya menunjuk ke kantung plastik yang ia gantung di sepedanya. Lalu mereka jalan lagi tanpa berbicara. Tampak kedua wajah anak itu tegang, suasana hening, yang terdengar hanya deritan sepeda dan hembusan napas mereka.
Setelah dua kali belok, mereka berhenti di depan sebuah rumah. Adi dan Fabian menengok ke kanan kiri, sepi! Tidak ada orang lewat, dan langit masih biru gelap. Lampu teras rumah itu masih menyala, sementara ruang tamunya gelap, menandakan penghuninya belum bangun. Adi dan Fabian merebahkan sepedanya ke tanah dan mengendap-endap masuk ke halaman rumah itu. Rumah itu memang tidak berpagar, sehingga tidak sulit bagi Adi dan Fabian untuk menjalankan misi mereka.
Mereka mendekati sebuah kandang di bawah pohon jambu. Adi mengangguk pada Fabian, lalu Fabian mengeluarkan palu dari dalam kantung plastik yang ia bawa tadi. Ia mengetukkan palu itu ke kunci gembok di pintu kandang. Penghuni kandang itu terbangun mendengar suara ketukan palu Fabian. Ia adalah seekor rakun.
Rakun berwarna hitam bergaris kuning. Sudah beberapa minggu terakhir Adi dan Fabian memperhatikannya. Dulu mereka tidak pernah menyadari keberadaannya. Padahal setiap hari sepulang sekolah mereka melewati rumah itu. Hingga suatu saat Adi melihat seperti ada seekor kucing tidur melingkar di dalam kandang. Setelah didekati, Adi baru tahu bahwa itu bukan kucing, melainkan seekor rakun yang malang.
Kondisi rakun itu sangat memprihatinkan. Kandangnya gelap dan kotor, dengan sisa-sisa kotoran yang tidak pernah dibersihkan oleh sang pemilik, kandang sempit yang terbuat dari bambu dan kawat itu berada di bawah pohon jambu, sehingga sinar matahari tidak pernah menembus ke dalamnya. Tidak ada makanan, yang ada hanya sepotong tulang sapi yang sudah kering dan bonggol pisang yang berwarna hitam. Tempat minumnya pun kering dan kotor. Di bawah kandang ada setumpuk kaleng-kaleng bekas.
Rakun itu terbangun ketika pertama kali Adi dan Fabian mendekatinya. Dia sendirian, tanpa teman. Rakun itu berjalan perlahan mendekati mereka dan mengeluarkan moncongnya ke sela-sela kawat, seperti minta makan. Rakun itu terlihat tidak bersemangat dan kesepian. Pasti pemiliknya tidak pernah mengajak rakun itu berbicara atau bermain, dia ditinggalkan begitu saja di dalam kandangnya yang bau dan lembab dengan makanan seadanya.
Adi jadi teringat pada kucingnya. Dia sering mengajak kucingnya bermain dan berbicara, walau pun Adi tidak yakin kucing itu mengerti apa yang Adi ucapkan. Tapi menurut Adi kucing itu pasti senang diajak berbicara oleh pemiliknya. Adi memberi makan kucingnya secara teratur dan dia membebaskan kucingnya pergi ke mana pun untuk berinteraksi dengan kucing-kucing yang lain.
Adi memang tidak suka mengurung binatang. Bagi Adi binatang tidak suka dikurung, sama seperti manusia yang tidak suka dipenjara. Itu mengapa Adi tidak mau memelihara binatang yang harus dimasukkan ke dalam kandang, seperti burung atau lainnya. Dia pernah memelihara burung merpati, tapi dia menyediakan rumah merpati yang terbuka agar merpati itu bebas terbang kapan pun dan ke mana pun. Dia juga tidak suka melihat orang yang memelihara seekor monyet kemudian mengikat monyet itu dengan rantai. Adi membayangkan betapa sedihnya monyet itu, sendiri tanpa teman dan tidak bisa pergi ke mana-mana. Dia hanya bisa bergelantungan di tempatnya yang itu-itu saja. Bisa-bisa monyet itu jadi gila, pikir Adi.
Karenanya, ketika melihat rakun itu untuk pertama kali, Adi langsung merasa kasihan. Setiap hari di sekolah Adi membeli sepotong melon dan, tanpa sepengetahuan pemiliknya, ia berikan pada rakun itu. Fabian pun terkadang membawa sesuatu untuk rakun itu. Dan setelah dua minggu mereka jadi merasa sayang padanya. Hingga akhirnya mereka berencana untuk melepas rakun itu.
Dua hari sebelumnya Adi dan Fabian mencari waktu yang paling tepat. Mereka pun menyimpulkan bahwa setelah sholat subuh adalah waktu yang paling tepat. Karena pemilik rumah itu sepertinya selalu bangun siang. Bahkan ketika Adi dan Fabian berangkat sekolah pun pemilik rumah belum bangun.
Setelah ketukan ketiga yang keras, gembok itu berhasil terbuka. Adi mengeluarkan karung plastik bekas tempat beras dari balik jaketnya. Ia mempersiapkan karung itu dan pelan-perlan membuka pintu kandang. Si rakun mulai panik, dia berjalan menuju pojok kandang menjauhi Adi. Adi segera masuk ke kandang hingga hampir separuh badannya. Kotor dan bau tidak dia hiraukan. Rakun itu semakin panik ketika Adi menyodorkan karung ke arahnya. Ia menguik dan meggeram, mengusir tangan Adi dengan mengayunkan cakarnya. Dengan sigap Adi segera menyelubungkan karung ke kepala rakun. Rakun itu meronta-ronta di dalam karung, tapi Adi lebih gesit. Ia segera menarik karung dengan rakun di dalamnya. Fabian yang bertugas mengawasi sekeliling meloonjak-lonjak panik. Begitu Adi berhasil mengeluarkan karung itu, mereka segera mengikatnya dengan tali. Rakun itu terus meronta-ronta, ia menguik keras dan mencakar-cakar karung.
Cepat-cepat Adi dan Fabian meraih sepedanya dan melesat dari situ. Mereka mengayuh sepedanya secepat mungkin tanpa satu pun kata keluar dari mulut mereka. Melewati jalan kecil, akhirnya mereka sampai di hutan kampus Universitas Indonesia, kampus dekat rumah mereka. Hutan di kampus itu memang masih sangat lebat. Bahkan banyak daerah yang sepi di malam hari sehingga tidak ada yang berani lewat situ.
Adi dan Fabian mulai melambatkan sepeda mereka. Karung berisi rakun yang digantung di sepeda Adi masih bergerak-gerak, tapi sudah tidak sehebat tadi. Adi dan Fabian melihat ke kanan kiri, berusaha mencari tempat yang paling cocok. Setelah berjalan agak jauh, Adi berhenti. Fabian mengikutinya. Dalam hening mereka segera membuka ikatan karung setelah sesaat memandang lekat ke arah hutan yang gelap. Tak perlu menunggu lama rakun itu merayap keluar dari karung yang sudah terlepas ikatannya. Rakun itu segera melesat pergi masuk ke dalam hutan, tanpa menengok ke Adi dan Fabian. Adi dan Fabian menarik napas lega. Misi telah terselesaikan. Mula-mula Fabian tertawa kecil, lalu Adi juga tertawa. Semakin lama tawa mereka semakin keras dan akhirnya mereka berdua melonjak-lonjak kegirangan sambil mengacungkan kepalan tangan ke udara.
“Kita berhasil,” ujar Fabian sambil mengayuh sepedanya perlahan. Langit sudah memerah, tanda sebentar lagi matahari akan terbit.
“Aku takut banget tadi,” ujar Fabian lagi.
“Aku juga,” sahut Adi. “Aku takut setengah mati waktu nangkap rakun tadi. Aku takut dicakar, selain itu dia ribut banget. Bisa-bisa pemiliknya bangun.” Mereka tertawa-tawa dan saling mencurahkan perasaan masing-masing di sepanjang perjalanan itu.
“Kalau aku sudah besar nanti…,” kata Adi. “Aku akan memperjuangkan undang-undang perlindungan binatang. Seperti di Amerika.”
“Apa mungkin?” tanya Fabian agak ragu.
“Kenapa nggak mungkin?” jawab Adi. Fabian hanya tersenyum sambil mengangkat bahu. Mereka berdua pulang ke rumah masing-masing untuk bersiap berangkat ke sekolah. Rencananya besok mereka akan datang lagi ke hutan tadi, siapa tahu mereka bisa bertemu dengan si rakun. Mumpung besok hari Minggu.
Malamnya Adi menonton TV di rumahnya. Karena malam itu malam minggu dia bebas bermain. Ayah dan Ibunya sedang mengobrol sambil duduk di sofa di belakang Adi. Tapi Adi merasa tidak enak mendengar percakapan mereka.
Ayah dan Ibu Adi sedang membicarakan tentang tetangga mereka yang baru saja kehilangan binatang peliharaannya, seekor rakun. Tetangganya itu bilang seseorang telah merusak kandang rakunnya tadi pagi. Adi merasa sangat tidak nyaman, karena pencuri rakun yang saat ini sedang dibicarakan ayah dan ibunya, juga warga kampung, adalah dirinya. Ia segera beranjak dari ruang keluarga dan minta ijin untuk bermain ke rumah Fabian.
Setelah bertemu dengan Fabian, Adi mengungkapkan perasaannya. Betapa saat ini sebagian hatinya merasa bersalah. Dan ternyata Fabian juga merasakan hal yang sama.
“Kayaknya kita harus bertanggung jawab,” ujar Fabian. “Soalnya kita sudah mencuri rakun itu, walau pun maksud kita baik.”
“Iya sih. Tapi kita harus gimana? Aku nggak berani kalau harus mengaku sama pemiliknya,” jawab Adi.
“Aku juga nggak mau. Nanti kita dikenal sebagai pencuri,” Fabian setuju.
“Kita ganti saja dengan uang. Aku punya sedikit tabungan di celengan.”
“Tapi berapa harga seekor rakun? Aku nggak tahu.”
“Aku juga sebenarnya nggak tahu. Tapi kupikir mungkin 30.000 cukup. Gimana menurut kamu?”
“Mm, gimana kalau 40.000? kita bagi dua, aku 20 kamu 20.” Adi berpikir sejenak, kemudian dia mengangguk. Mereka berdua tersenyum seraya berjabatan tangan.
“Waktu yang sama?” tanya Adi.
“Waktu yang sama,” jawab Fabian.
Dan memang di waktu yang sama, setelah sholat subuh keesokan harinya, Adi dan Fabian kembali mendorong sepeda mereka keluar dari halaman masjid. Tanpa suara, adi mengeluarkan selembar amplop. Ia buka amplop yang tidak dilem itu dan menunjukkan isinya pada Fabian. Selembar uang 20.000. Fabian juga mengeluarkan uang dan selembar kertas putih dari saku celananya, kemudian menunjukkan tulisan di kertas itu pada Adi.
“Kami minta maaf atas kesalahan kami mengambil binatang peliharaan bapak tanpa ijin. Karena itu kami ingin menggantinya dengan uang sekedarnya. Semoga ini cukup untuk mengganti rakun Bapak. Terima kasih.”
Adi melipat lagi kertas itu dan, masih tanpa suara, memasukkannya ke amplop bersama 2 lembar 20.000an. Suasana di rumah itu masih seperti biasa. Perlahan adi mendekati pintu, sementara Fabian menunggu di depan untuk berjaga-jaga. Kemudian Adi menyelipkan amplop itu di bawah pintu, lalu segera berlari dan memacu sepedanya ke arah rumah.
Mereka berdua tertawa-tawa lega. Kini tanpa ragu mereka memacu sepedanya menuju hutan kampus Universitas Indonesia. Sekedar untuk berjalan-jalan di Minggu pagi, juga untuk menjenguk si rakun. Siapa tahu mereka beruntung dapat bertemu dengannya.
-2008-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar