
Di tengah lautan Atlantik terdapatlah sebuah pulau kecil terpencil. Saking kecilnya sampai-sampai pulau ini tidak tergambar di peta dan tidak mempunyai nama yang resmi. Di pulau itu ada sebuah gunung yang sudah tidak bisa menyemburkan lahar lagi atau biasa disebut gunung yang sudah tidak aktif. Walau pun pulaunya tidak bernama, tapi gunung itu mempunyai nama. Penduduk yang tinggal di kaki gunung menyebutnya dengan gunung Gonu. Lahar yang dulu pernah keluar dari gunung Gonu membuat tanah di sekitar gunung Gonu subur dan para penduduk memanfaatkannya untuk bercocok tanam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Dari penghasilan sawah dan kebun serta keadaan alam yang indah tanpa polusi membuat penduduk gunung Gonu hidup damai dan sejahtera.
Tapi kedamaian itu tidak berlangsung lama. Karena sejak lima tahun yang lalu para penduduk dikejutkan oleh kemunculan raksasa buruk rupa dari sebuah gua lereng gunung Gonu. Banyak orang bilang raksasa buruk rupa itu dilahirkan dari perut gunung Gonu ketika gunung Gonu meletus untuk yang terakhir kalinya, enam tahun yang lalu. Karena itulah masyarakat menyebutnya ‘ Si Gonu’.
Waktu itu para penduduk sedang bekerja di ladang mereka. tiba-tiba tanah yang mereka pijak terasa bergetar dan terdengar bunyi berdebum dari jauh. suara berdebum itu mekin lama makin dekat, dan akhirnya masyarakat melihat manusia bertubuh besar sekali, tingginya setinggi rumah termegah di pulau itu dan tubuhnya gemuk tambun. Kulitnya hitam, rambutnya panjang dan wajahnya buruk.
“Ada raksasa...!” penduduk berlarian, cangkul dan bajak mereka tinggalkan di ladang. Anak-anak kecil yang sedang bermain digendong oleh orang tua masing-masing dan dibawa masuk ke rumah. Pintu dan jendela ditutup rapat, juga kandang binatang ternak mereka. Semuanya ketakutan dan bersembunyi di rumah masing-masing. Setelah raksasa itu kembali ke gunung dan dirasa aman, baru penduduk berani keluar satu persatu. Mereka segera berkumpul di rumah kepala suku dan membicarakan tentang kemunculan raksasa yang belum pernah mereka lihat sebelumnya itu.
“Hati-hati, raksasa itu wajahnya sangat buruk. Pasti ia raksasa yang berbahaya,” ujar salah seorang dari mereka.
“Tapi saya tadi sempat melihat wajahnya. Sepertinya ia belum dewasa, masih anak-anak. Apakah benar ia berbahaya?” ujar yang lain.
“Masih anak-anak atau sudah dewasa, tetap saja ia raksasa yang mungkin akan memangsa semua hewan ternak kita,” kata yang lain lagi.
“Kalau benar ia berbahaya, mengapa ia pergi begitu saja tanpa merusak ladang kita atau memakan hewan ternak?”
“Entahlah. Mungkin dia memang tidak memakan sayuran dan buah-buahan, bukan juga pemakan hewan. Tapi jangan-jangan ia pemakan manusia. Dan ia tadi pergi begitu saja karena tidak ada satu pun manusia yang ada di luar rumah.”
“Hii...!” semua penduduk jadi bergidik ngeri. Mereka takut kalau-kalau suatu saat nanti raksasa itu muncul lagi. Mereka belum tahu pasti dimana raksasa tersebut tinggal. Hingga suatu ketika salah satu penduduk pergi mendaki gunung Gonu untuk mencari bunga anggrek. Dan ketika itulah ia menemukan gua tempat raksasa itu tinggal. Raksasa itu sedang tertidur pulas di dalam guanya. Suara dengkurannya sampai terdengar dari jarak cukup jauh. bahkan napas tidurnya bisa menghisap daun-daun kering yang berserakan di sekitar gua. Segera saja orang itu turun ke desa dan memberitahukan dimana raksasa itu tinggal. Maka sejak saat itu para penduduk menyebutnya Si Gonu. Mereka tidak lagi berani mendaki gunung Gonu, hanya beberapa orang saja yang masih pergi ke gunung Gonu, itu pun dengan sangat berhati-hati agar tidak berjumpa raksasa Gonu.
Tapi tahukah kalian ternyata Gonu bukanlah raksasa yang jahat. Ia memang masih anak-anak, tapi tubuhnya sangat besar dan menakutkan. Waktu itu Gonu ingin turun ke desa di kaki gunung untuk berkenalan dengan manusia yang tinggal di sana. Sudah lama ia ingin berteman dengan manusia, tapi sebelumnya ia tidak berani. Ketika ia sudah berani turun ke pemukiman manusia, ternyata semua manusia itu lari tunggang langgang ketakutan melihat wajahnya yang menyeramkan. Gonu sangat terpukul hatinya melihat semua manusia lari menghindarinya. Ia langsung kembali ke gua tempat tinggalnya dan menangis tersedu-sedu di sana. Ia sangat sedih karena keinginannya untuk berteman tidak diterima, bahkan manusia takut padanya.
Di dalam gua Gonu menenggelamkan wajah ke kedua lengannya. Ia menangis hingga tanah gua itu basah oleh air mata. Suaranya meraung-raung memecah kesunyian hutan, tapi letaknya yang jauh dari desa membuat penduduk tidak mendengar suara tangisan Gonu.
“Hu...hu...hu... malang benar nasibku. Aku tidak punya teman, aku merasa kesepian di tengah hutan ini. Mengapa manusia-manusia mungil itu tidak mau berteman denganku? Hu...hu...hu... ini semua gara-gara wajahku yang menyeramkan. hu...hu...hu... aku tidak suka dengan wajahku!” mendengar Gonu menangis para hewan yang tinggal di hutan mendekati Gonu. Burung-burung bertengger di pohon apel di mulut gua, monyet-monyet bergelantungan di tangkainya, ada pula yang duduk di batu-batu dekat gua. Kijang, rusa, kodok, ular, semua merasa iba melihat Gonu menangis tersedu-sedu. Mereka tahu bahwa Gonu bukanlah raksasa yang jahat, bahkan ia sangat baik dan sering berbagi buah yang ia peroleh kepada binatang-binatang yang ditemuinya. Ia juga pernah menolong kijang yang terluka ketika terjatuh ke dalam jurang. Gonu tidak pernah menyakiti mahluk lain. Ia tidak memakan binatang seperti perkiraan manusia, tapi ia memakan buah-buahan yang tumbuh di gunung. Ia sangat suka berbagai macam buah, tapi hanya satu buah yang tidak pernah ia makan, yaitu buah apel yang tumbuh di depan guanya. Pohon itu adalah satu-satunya pohon apel di hutan gunung Gonu.
Seekor monyet mendekati Gonu, mengusap kepalanya dengan lembut. Gonu tengadah, matanya yang basah menatap monyet itu. Si monyet menyerahkan sebuah pisang kepadanya. Gonu menerima pisang itu dan tersenyum,
“Ya, kalianlah teman-temanku yang baik. Kalian yang selalu menemaniku setiap hari. Bermain denganku dan bernyanyi di dekat guaku. Ah, mengapa aku ini tidak bersyukur? Bukankah aku sudah memiliki teman-teman yang sangat baik? Tidak apa lah kalau aku tidak bisa berteman dengan manusia, toh aku sudah punya kalian. Aku tidak akan menyalahkan siapa pun, manusia-manusia itu hanya belum mengenalku. Iya kan?” Si monyet mengangguk setuju. Gonu tersenyum menatap semua hewan di sekelilingnya. Ia mengupas pisang pemberian monyet dan memakannya dengan riang. Monyet-monyet berteriak kegirangan, burung-burung berkicau ceria, semua senang melihat Gonu bahagia kembali.
Hingga suatu ketika Gonu berjalan-jalan mencari buah, ia turun sampai ke dekat pemukiman manusia. Tetapi ia tidak berani masuk ke pemukiman itu, ia khawatir kalau manusia akan lari lagi melihat dirinya. Apalagi Gonu sudah semakin dewasa sekarang, tubuhnya sudah lebih besar dua kali lipat dari ketika ia pertama kali ke pemukiman manusia. Gonu mendekati sebuah pohon sawo dan hendak memetik buahnya yang matang. Tiba-tiba ia mendengar suara gemuruh dari kejauhan. Dilihatnya tampak angin beliung berputar-putar di kaki gunung mendekati desa. Gonu terkesiap, angin itu pasti akan menghancurkan rumah-rumah dan semua sawah penduduk. Gonu mencoba untuk turun lagi, semakin mendekati desa itu tapi ia bersembunyi agar tidak ada satu pun manusia yang melihatnya. Angin beliung itu berputar-putar semakin dekat. Tanah yang dilaluinya dalam sekejap gundul karena tanamannya tersapu oleh angin. Para penduduk yang sore itu sedang beristirahat di beranda rumah mereka terkejut melihat angin yang tiba-tiba datang. Tapi terlambat, angin itu lebih cepat dari pada langkah kaki manusia.
“Awas, ada angin topan!”
“Tolong...!” semua orang berteriak minta tolong. mereka berpegangan satu sama lain, tapi ada saja yang terlepas dan tersapu angin. Atap-atap rumah beterbangan, pohon-pohon roboh, rumah-rumah porak poranda, hewan-hewan ternak berputar-putar masuk ke dalam arus angin itu. Semua orang panik. Mereka menjerit-jerit, menangis, dan berusaha berlari kesana kemari. Di antara orang-orang itu ada seorang ibu berlari sambil menggendong bayinya. Ia memeluk bayinya rapat di dadanya. Ia tak ingin kehilangan anak kesayangannnya itu. Tapi ketika angin mendekat, bayi kecil itu terlepas dari dekapan ibunya. Semua orang yang melihat menjerit, ibu itu menangis tak berdaya.
Bayi itu terlempar oleh angin dan sempat jatuh ke tanah. Sang ibu dan beberapa orang berlari hendak meraihnya, tapi bayi itu jauh dari jangkauan mereka. Gonu terkesiap melihat bayi manusia mungil yang jatuh di dekatnya bersembunyi. Ia bingung, apa yang harus ia lakukan? Gonu melihat orang-orang berlari mendekati bayi itu, namun angin itu lebih cepat dan hampir mendekati bayi. Tanpa pikir panjang lagi Gonu keluar dari persembunyiannya. Ia meraih bayi yang hanya sebesar ibu jarinya itu. sejenak ia bingung hendak di simpan di mana bayi itu agar selamat. Cepat-cepat Gonu membuka mulutnya yang besar dan memasukkan bayi ke dalam mulutnya. Orang-orang yang melihat hal itu sangat terkejut.
“Oh, raksasa itu memakan bayiku!” ibu itu menjerit dan menangis dari jauh. Namun orang-orang itu tidak bisa berbuat apa-apa, karena beberapa detik kemudian angin datang. Mereka berpegangan satu sama lain, mencoba bertahan pada pepohonan yang tidak tertiup angin. Semua orang semakin panik. Gonu tidak sempat menyingkir, angin itu sudah datang menuju ke arahnya. Tapi dengan tubuhnya yang besar ia bisa tetap berdiri tegak. Rambutnya yang panjang bergerak hebat tertiup angin, ia menutup matanya agar tidak kemasukan debu.
Tak lama angin beliung itu mulai reda. tidak ada lagi benda-benda yang beterbangan. Rumah-rumah sudah rata dengan tanah, semua tanaman rusak. Orang-orang tertegun menatap Gonu yang kini tampak jelas berdiri di hadapan mereka. Ibu tadi hanya menatap Gonu sambil menangis. Gonu terdiam, ia tidak berkata apa-apa. Gonu segera mengeluarkan bayi tadi dari dalam mulutnya dan menyerahkan pada ibunya. Ibu itu menangis tersedu, mendekap bayinya erat-erat. Semua orang terdiam menatap Gonu tidak percaya. Gonu tidak berkata apa-apa. Ia segera berbalik hendak kembali menuju hutan .
“Hei tunggu!” namun tiba-tiba ibu tadi memanggilnya. Ia berjalan perlahan mendekati Gonu,
“Terima kasih, kau telah menyelamatkan bayiku,” ujarnya lagi. Gonu tersenyum, ia duduk di depan ibu itu dan mengusap kepala sang bayi dengan ujung jarinya. Semua orang terkesima, mereka tidak menyangka raksasa yang selama ini mereka takuti ternyata bukanlah raksasa yang jahat. Satu persatu mereka memberanikan diri mendekati Gonu, menyentuh tangannya yang besar dan kasar. Manusia-manusia itu tidak lagi takut kepadanya. Gonu terharu, matanya berkaca-kaca. Ia merasa sangat bahagia, keinginannya selama ini untuk berteman dengan manusia kini tercapai.
Sejak saat itu tidak ada lagi manusia yang takut pada Gonu. Mereka kembali keluar masuk hutan seperti sebelumnya, mendaki gunung untuk mencari anggrek. Bahkan terkadang mereka mengunjungi gua Gonu. Gonu pun sesekali mengunjungi pemukiman manusia. Ia membiarkan anak-anak manusia bermain memanjat tubuhnya yang sangat besar dan bercakap-cakap dengan mereka.
“Gonu, boleh aku bertanya padamu?” ujar seorang anak pada Gonu ketika ia bermain ke gua Gonu.
“Boleh, tentu saja boleh.”
“Em... apakah benar kau dilahirkan dari perut gunung Gonu?” Gonu terseyum mendengarnya.
“Tidak, aku tidak dilahirkan dari perut gunung,” jawab Gonu seraya berpaling menatap pohon apel di depan guanya.
“Tapi aku dilahirkan dari apel.”
-2006-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar